Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Ganjar Ajarkan lmu Titen Siaga Bencana kepada Para Siswa

Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah rawan bencana longsor di Jateng.

Penulis: hermawan Endra | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Hermawan Endra
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajarkan Ilmu Titen dari kearifan lokal sebagai bentuk mitigasi adanya bencana alam di Banjarnegara, Senin (25/7/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah rawan bencana longsor di Jawa Tengah. 

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajarkan Ilmu Titen dari kearifan lokal sebagai bentuk mitigasi adanya bencana alam di Banjarnegara,  Senin (25/7/2022).
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajarkan Ilmu Titen dari kearifan lokal sebagai bentuk mitigasi adanya bencana alam di Banjarnegara, Senin (25/7/2022). (Tribun Jateng/Hermawan Endra)

Gubernur Ganjar Pranowo mengajarkan Ilmu Titen dari kearifan lokal sebagai bentuk mitigasi adanya bencana alam di Banjarnegara,  Senin (25/7/2022).

Ilmu Titen, kata Ganjar merupakan warisan turun temurun dari leluhur yang memerhatikan gejala-gejala alam.

Sebagai kearifan lokal, menurut Ganjar, sudah semestinya ilmu itu dipelajari oleh siapapun termasuk para siswa. 

Hal itu disampaikan Ganjar saat melakukan kegiatan pendidikan kebencanaan untuk pelajar di aula SMKN 1 Bawang, Banjarnegara. 

"Ilmu Titennya sebenarnya lebih pada kearifan lokal. Harapannya,  mereka bisa mempraktikkannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu," kata Ganjar.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Andri Sulistyo mengatakan di daerahnya tercatat ada 99 desa rawan bencana tinggi.

"Hampir lebih dari 70 persen, kita memang rawan bencana terutama longsor, gunung api dan gas beracun," terang Andri di lokasi. 

Di wilayahnya terdapat salah satu desa yang telah mempraktikkan Ilmu Titen yaitu Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. 

"Mereka tinggalnya kan tidak bergerombol, di tebjng-tebing, satuan-satuan, ya. Jadi kalau hujannya sudah dua hari atau tiga hari, biasanya keluarga ini mengungsi ke bawah (daerah aman) , saudaranya yang aman yang tidak tinggal di lereng-lereng. Jadi itu Ilmu Titen," terangnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved