Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Dita Kembangkan Jajanan Khas Lumpia Semarang Mini, Sehari Ludes 5.000 Biji Berkat Pemasaran Digital

Dalam sehari, produksi Lumpia Semarang Mini bisa mencapai hingga 500 bungkus, dengan satu bungkus berisi 10 biji lumpia.

Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Bram Kusuma
Tribun Jateng Hari Ini Kamis 16 April 2026 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana mendung tak mengurangi semangat para pekerja di dalam sebuah ruang produksi sederhana di kawasan Semarang Timur, Kota Semarang.

Di satu sudut meja, Wiwit (42) berdiri tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. 

Selembar kulit lumpia diambil dari tumpukan, diletakkan di meja, lalu diisi rebung berbumbu yang sudah dicampur udang. Dengan satu gerakan cekatan, dia menggulungnya hingga rapi membentuk lumpia mini. 

Satu gulungan selesai dalam hitungan sekitar 10 detik. Tanpa jeda, Wiwit langsung mengambil kulit berikutnya, mengulang proses yang sama, lagi dan lagi.

“Untuk bisa bikin lumpia mini ini, saya latihan sendiri. Awalnya nggak langsung bisa dalam waktu cepat, ya pelan-pelan dulu,” kata Wiwit, tanpa menghentikan pekerjaannya, ditemui Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Di hadapannya, bahan-bahan tersusun sederhana, baskom besar berisi isian, telur kocok sebagai perekat, potongan ayam dan udang, serta tumpukan kulit lumpia.

Dari sana, ratusan biji lumpia mini lahir setiap hari.

lumpia semarang mini
PRODUKSI LUMPIA - Aktivitas di sebuah rumah produksi lumpia mini di Jl Kanalsari Timur, Rejosari, Semarang Timur, Kota Semarang

Bahkan dalam sehari, produksi bisa mencapai hingga 500 bungkus, dengan satu bungkus berisi 10 lumpia mini. Namun di balik angka itu, terdapat konsekuensi fisik.

“Iya, badan rasanya pegal-pegal. Langsung minta pijat,” imbuh dia sambil berseloroh.

Cerita usaha itu bermula dari hal yang relatif sederhana.

Sang pemilik, Pradita Wulansari atau Dita, merintis usahanya sejak 2018 dari usaha keluarga. 

Saat itu, ibunya berjualan gorengan di pinggir jalan. 

Lumpia mini hanya menjadi jajanan pelengkap yang dititipkan ke penjual gilo-gilo, gerobak jajanan khas keliling yang biasa menjual aneka gorengan dan buah potong.

“Awalnya kami menitipkan ke gilo-gilo dan warung nasi kucing,” ungkap Dita.

Kali pertama menjalankan usaha, produknya belum memakai kemasan menarik, apalagi strategi pemasaran besar. Namun dari situ, Dita ingin lebih berkembang. Ia melihat adanya peluang kudapan yang populer sebagai oleh-oleh khas Semarang ini. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved