Berita Purbalingga
Rindu Lihat Pesawat, Warga di Sekitar Bandara JBS Purbalingga Menunggu di Depan Pintu Kedatangan
Antusiasme warga melihat pesawat terbang di Purbalingga sepertinya tidak pernah surut.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA -- Antusiasme warga melihat pesawat terbang di Purbalingga sepertinya tidak pernah surut.
Dengan adanya keberadaan Bandara Jenderal Besar Soedirman (JBS) Purbalingga mereka berpikiran akan ada pesawat lalu-lalang setiap hari.
Tidak heran ada saja yang membawa anak-anaknya dan sanak saudara jalan-jalan ke Bandara hanya menunggu ada pesawat landing atau take off.
Contohnya apa yang dilakukan oleh warga di Desa Tidu, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga yang menunggu di pinggiran pagar pembatas melihat ada pesawat Wings Air lewat.
Sejumlah warga sekitar Bandara itu bahkan menunggu di depan pintu kedatangan penumpang melihat seperti apa wujud pesawat Wings Air berwarna putih dan merah.
"Ia rindu lihat motor mabur (pesawat).
Harapannya ya ada setiap hari, lumayan buat ramai-ramai.
Ini aja kita tidak tahu ada pesawat lagi tahunya ada bupati datang jadi kita ikutan ke sini ke Bandara," ujar Asih Rahayu kepada Tribunbanyumas.com.
Kebetulan ia datang ke Bandara bersama dengan tetangga dan warga Desa lainnya membawa anak juga.
Semenjak satu tahun yang lalu memang penerbangan di Bandara Jenderal Soedirman Purbalingga dikatakan mati suri.
Apalagi maskapai Citilink sempat tidak mengudara di Purbalingga dikarenakan Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta yang direvitalisasi.
Harapan masyarakat akan ramainya Bandara JBS seperti sama harapan semua pihak agar Bandara dapat lebih aktif dan hidup.
Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan penerbangan pesawat sempat terhenti salah satunya adalah karena adanya revitalisasi Bandara Halim Perdanakusuma.
"Strategi peningkatan occupancy misalnya adalah mengajak sosialisasi dengan menggaet para influencer, kemudian mengadakan event-event seperti integrated tourism kegiatan even pariwisata dengan penerbangan dengan wings air.
Selain itu mengajak para pejabat dinas di lingkungan pemkab Barlingmascakeb menggunakan pesawat ketika melakukan perjalanan dinas ke Jakarta.
Communications Strategic of Wings Air, Danang Mandala Prihantoro mengungkapkan rasa optimisme kontribusi Wings Air menjadi pengungkit perekonomian Purbalingga dan sekitarnya.
Ada beberapa keuntungan bagi masyarakat baik pelaku bisnis maupun wisatawan seperti memperpendek jarak antardaerah, mempersingkat waktu perjalanan, menarik kunjungan pebisnis dan wisatawan, pengembangan potensi daerah berbasis kearifan lokal.
"Hal tersebut bisa memunculkan multiplier effect ekonomi dengan segala variabelnya,” katanya kepada Tribunbanyumas.com, dalam rilis.
Dia menambahkan, daerah di sekitar Barlingmascakeb adalah daerah potensi ekonomi baru yang sangat mungkin berkembang.
Kuliner, pariwisata dan segala faktor pembentuknya diyakini akan menjadi daya tarik destinasi ke Barlingmascakeb dengan menggunakan pesawat.
"Selain itu, potensi yang sudah ada adalah ternyata kawasan tersebut adalah kawasan pendidikan karena ada beberapa perguruan tinggi," imbuhnya.
Berikut adalah rute dan jadwal penerbangan Wings Air dari dan ke BJBS Purbalingga:
Kota Asal Purbalingga (PWL), Kota Tujuan: Pondok Cabe (PCB) dengan nomor terbang IW.1711, berangkat pukul 09.50 WIB - Jadwal Tiba 11.00 WIB, terbang setiap Jumat
Kota Asal: Pondok Cabe (PCB), Kota Tujuan: Purbalingga (PWL) dengan nomor terbang IW-1710, berangkat pukul 08.20 WIB - Jadwal Tiba 09.30 WIB - terbang setiap Jumat.
Maskapai Wings Air mengoperasikan pesawat ATR 72-600 dan ATR 72-500.
Untuk harga tiketnya sendiri sekali perjalanan adalah seharga Rp 1.136.200.
Informasi update tiket dapat dipesan melalui aplikasi Traveloka. (jti)
Baca juga: Profil Syech Zaki Alatas Suami Tasyi Athasyia, Viral Gegara Video Klarifikasi Masalah Keluarga
Baca juga: Prediksi Susunan Pemain PSM Makassar Vs Persija Jakarta Liga 1 2022, Adu Kuat 3 Bek Tavares Vs Doll
Baca juga: Kelompok Rentan Tapi Bukan Sasaran Terdepan Penerima BPUM
Baca juga: Eddy Gombloh Meninggal di Usia 80 Tahun, Sakit Jantung dan Tak Bisa Jalan Sejak Terjangkit Covid