Berita Kudus

Hasil Bahtsul Masail di Masjid Menara Kudus, Ini Pandangan Fikih Jika Alat Musik untuk Selawat

Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus telah menggelar bahtsul masail.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: sujarwo
Dok. Yayasan Masjid Menara Makam Sunan Kudus
Bahtsul Masail di Masjid Menara Kudus 

TRIBUNMURIA.COM, KUDUS – Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus menggelar bahsul masail bekerja sama dengan Lembaga Bahsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Bahtsul masail yang digelar di Masjid Menara Kudus pada 4 Agustus 2022 itu dihadiri oleh para hali fikih dan ulama dari Kudus dan dari berbagai daerah.

Misalnya yang hadir dalam kesempatan tersebut yakni KH Abdul Ghofur Maemun selaku Syuriah PBNU, kemudian dari jajaran Syuriah PWNU Jawa Tengah ada KH Abi Jamroh, KH Roziqin, DR Nasrullah Afandi, kemudian dari Lembaga Bahsul Masail PWNU Jawa Tengah ada KH Zaenal Amin, dan KH Busyro.

Ada bermacam as’ilah atau pokok bahasan yang diulas dalam forum tersebut. Di antara nya yakni perihal pandangan fikih tentang alat musik gamelan, kecapi, seruling, dan semacamnya digunakan sebagai pengiring upacara atau selawat.

Hasil pembahasan dalam bahsul masail tersebut, musik sebagai produk budaya penggunaannya dipengaruhi oleh budaya di mana alat itu dimainkan.

Dalam budaya tertentu, ada alat musik digunakan untuk kemaksiatan, namun dalam budaya yang lain, alat musik tersebut hanya digunakan untuk menikmati keindahan, dan dalam budaya yang lain lagi, alat musik tersebut digunakan untuk ketaatan.

Oleh karena alat musik di era kitab fikih ditulis rata-arata untuk bersenang-senang, maka kutubulfuqaha menyebut alat musik dengan alat al-malahi atau alat yang hanya digunakan untuk kesenangan dan melalaikan diri kepada Alah.

Pendapat fukaha atau ahli fikih tentang alat musik adalah khilaf (berbeda), sebagian ulama melarang, dan yang lain memperbolehkan.

Alasan ulama yang melarang alat musik adalah karena ada beberapa alat musik yang dilarang oleh hadis, ada alat musik yang walaupun tidak ada nash hadisnya namun kehadirannya digunakan untuk bersenang-senang, mengundang kemaksiatan, takhannuts (laki-laki menyerupai perempuan) dan melupakan Allah.

Sementara ulama yang memperbolehkan alat musik berargumen bahwa hukum alat musik tidak melekat pada alat, tapi lebih pada fungsi alat tersebut.

Jika alat tersebut digunakan untuk kemaksiatan maka haram hukumnya, jika digunakan untuk kebaikan maka halal hukumnya.

Mengenai hadis tentang larangan penggunakan alat musik at-tabl al-kubah (alat musik seperti kendang kecil), al-autar (gitar), dan al-mizmar (seruling), larangan ini tidak sampai derajat haram karena baik secara riwayat, lafz, ataupun makna memungkinkan penafsiran lain.

Menyikapi permasalahan tersebut, peserta bahtsul masail sepakat memberi pilihan kepada publik untuk meninggalkan atau menggunakan alat musik.

Bagi yang memilih untuk menggunakan, kriteria yang harus ditatati adalah bahwa alat musik tidak digunakan untuk kemaksiatan, kemudian nada, melodi, dan lirik yang digunakan tidak menyebabkan pengingkaran kebenaran, mengundang syahwat dan takhannuts (laki-laki menyerupai perempuan), kemudian penyanyi dan pemusiknya menutup aurat, dan dampak yang ditimbulkan oleh alat musik tersebut tidak mengundang dlarar atau sesuatu yang merugikan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved