Berita Sukoharjo
Jatuh Bangun Perajin Wayang Kulit di Sukoharjo, Tak Ada Pentas Wayang Pesanan Pun Sepi
Kesenian wayang kulit adalah kebudayaan asli nusantara yang telah diakui dunia.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Kesenian wayang kulit adalah kebudayaan asli nusantara yang telah diakui sebagai warisan dunia.
Kebudayaan yang berkembang sejak berabad-abad silam itu nyatanya masih lestari hingga sekarang.
Pertunjukan wayang kulit masih bisa disaksikan masyarakat dalam berbagai kesempatan. Meskipun, kesenian itu makin jarang dipentaskan.
Terlebih di masa pandemi Covid 19, selama sekitar dua tahun, masyarakat tak bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit.
Grup kesenian wayang kulit, termasuk dalang pun sepi orderan. Ini ternyata berimbas pada kesejahteraan pengrajin wayang kulit.
Kelangsungan industri kerajinan ini sangat bergantung dari intensitas pertunjukan wayang kulit di masyarakat.
Marwanto, perajin wayang kulit asal Kelurahan Sonorejo, merasakan betul dampak pandemi bagi kelangsungan usahanya.
"Dua tahun ini total," katanya, Selasa (9/8/2022)
Padahal, sebelum pandemi, ia mengaku sampai kewalahan melayani pesanan wayang kulit dari pelanggan.
Selama pandemi, kata dia, pemerintah melarang aktivitas yang mengundang kerumunan, termasuk pertunjukan wayang kulit.
Karena tidak ada pertunjukan, permintaan wayang kulit, khususnya dari dalang menurun tajam.
Terlebih pelanggannya selama ini kebanyakan dalang yang usahanya sangat tergantung dari ada tidaknya masyarakat pengundang.
"Kalau dalang gak main, gak ada pesanan wayang, " katanya
Selain dalang, pelanggan biasanya adalah kolektor. Tapi beda dengan dalang, kolektor biasanya membeli wayang dalam jumlah sedikit atau bijian.
Kepentingan mereka hanya sebatas koleksi atau pajangan. Beda dengan dalang yang memang memainkan wayang untuk pementasan. Karena sering dipakai, tak ayal dalang butuh memesan wayang baru.
Dalang juga biasanya membeli wayang dalam jumlah banyak karena harus memiliki tokoh wayang yang lengkap.
Di masa pandemi ini, yang memesan wayang di tempatnya lebih banyak kolektor di banding dalang. Sehingga ini memengaruhi pendapatan.
"Kalau dulu banyak yang pesan dalang, kolektor sedikit. Sekarang hanya mengandalkan pesanan kolektor," katanya
Ia mengatakan, dalam situasi normal, di luar pandemi, sebetulnya permintaan wayang kulit tetap stabil.
Karena itu, ia berharap tidak ada pembatasan aktivitas kesenian masyarakat lagi yang berdampak pada matapencaharian pelaku seni dan pengrajin.
Ia mengatakan, biasanya pesanan wayang kulit memuncak saat musim Pileg atau Pilkada maupun musim hajatan di masyarakat.
Biasanya para calon pemimpin atau caleg menggelar pentas wayang kulit untuk masyarakat atau pendukungnya.
Pemerintah juga kerap mengundang grup wayang untuk pentas dalam even-even tertentu, misal HUT kabupaten.
Hanya even-even itu ditiadakan selama pandemi Covid 19 sehingga banyak yang kehilangan mata pencaharian. (*)