Berita Nasional

Harga Mi Instan akan Naik 3 Kali Lipat Dampak Perang Rusia dan Ukraina yang Belum Berakhir

Tak tanggung-tanggung, harga mi instan diperkirakan akan melambung tiga kali lipat dari harga sekarang.

Editor: m nur huda
Shutterstock
Ilustrasi mi instan - Tak tanggung-tanggung, harga mi instan diperkirakan akan melambung tiga kali lipat dari harga sekarang. 

Namun demikian, ia memperkirakan kenaikan harga mi instan itu tidak akan sampai tiga kali lipat seperti yang dikatakan Mentan. "Kenaikan ini tak berdampak banyak terhadap harga mie," ujar Franky, Rabu (10/8).

Menurutnya, kenaikan harga mie tak akan signifikan. Sebab, terigu yang dihasilkan dari biji gandum bukan satu-satunya komponen utama.

"Kalau tahu costing mie instan baru orang mengerti bahwa mi instan bukan hanya terigu. Komponen terigunya juga tidak besar-besar amat," katanya.

"Harga mie instan bisa saja naik, bisa saja. Tapi kalau ada pernyataan yang mengatakan bisa tiga kali lipat, itu berlebihan. sangat-sangat berlebihan," kata Franky.

Ia menambahkan, Indonesia mengimpor gandum ke banyak negara. Apalagi, saat ini beberapa negara yang dimaksud juga sedang panen gandum. Jadi, kata dia, pasokan gandum dalam negeri tak akan banyak terpengaruh.

"Hari ini di bulan, dari bulan Juli-Agustus, Amerika, Kanada, Panen. Rusia panen, nanti sebentar lagi Argentina panen. Nggak usah diributin lah. Nggak ada yang perlu ditakut-takutin kepada konsumen kita," katanya.

Di sisi lain Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yakin harga mi instan tidak akan naik tiga kali lipat seperti yang dikatakan Mentan.

Sebaliknya, ia menyebut harga gandum akan turun seiring membaiknya panen komoditas itu di sejumlah negara.

"Enggak (naik). Dulu kan gagal panennya (gandum) Australia, Kanada, Amerika gagal, sekarang panennya sukses," ujar Zulhas di Kementerian Perdagangan, Rabu (10/8).

Zulhas menambahkan saat ini Ukraina sudah bisa mengekspor gandum sehingga harga komoditas itu akan turun pada September mendatang.

"Apalagi sekarang Ukraina bisa jual (gandum). Mungkin September trennya akan turun," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menyampaikan kenaikan harga gandum akibat invasi Rusia ke Ukraina akan berdampak pada harga pangan seperti roti dan mi di Indonesia. Sebab, Indonesia masih bergantung pada gandum dari dua negara tersebut. 

"Ini hati-hati yang suka makan roti yang suka makan mi, harganya bisa naik. Karena apa? ada perang di Ukraina. Kenapa perang di Ukraina mempengaruhi harga gandum? Karena produksi gandum 34 persen berada di negara itu. Rusia, Ukraina, Belarusia semua ada di situ. Di Ukraina saja ada stok gandum," papar Jokowi.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Ukraina. Di sana ia menanyakan langsung kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy soal stok gandum.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved