Breaking News:

Berita Sragen

Jembatan Sapen Dijadikan Sarana Bunuh Diri, Ini Tanggapan Bupati Sragen

Setiap tahunnya, peristiwa bunuh diri dengan cara melompat ke sungai terus terjadi.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/ Mahfira Putri Maulani
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Setiap tahunnya, peristiwa bunuh diri dengan cara melompat ke aliran Sungai Bengawan Solo dari Jembatan Sapen, Dukuh Prayungan, Desa Kedungupit, Sragen terus terjadi.

Peristiwa paling anyar dilakukan oleh Sastro Utomo Sugiman (53) warga Dukuh Ngrampal, RT 33, Desa Kebonromo, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen.

Sastro nekat menceburkan diri ke sungai setelah membuang jimat pusaka yang dimilikinya di aliran Sungai Bengawan Solo tersebut pada Minggu (14/8/2022). Sementara peristiwa tahun lalu pada November 2021.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan permasalahan tidak pada jembatannya namun pada ke masalah yang dialami korban.

"Kalau orang sudah niat bunuh diri di situ mau bagaimana? Jembatan di Seoul saja sudah ditutup dengan barikade dan sejumlah tulisan penyemangat tetap saja bunuh diri di situ," kata Yuni, Senin (15/8/2022).

Yuni melanjutkan Pemkab Sragen pernah menganggarkan jaring permanen yang akan ditaruh di sejumlah jembatan, namun tidak terealisasi dan tidak dianggarkan tahun ini maupun tahun depan.

"Sebenarnya dulu sudah kita anggarkan untuk semacam jaring permanen tapi ini sudah kembali tidak dianggarkan. 2023 belum ada anggaran itu, 2022 kemarin juga di gedog belum ada," lanjut dia.

Upaya pencegahan, pihaknya akan menulis himbauan ataupun kata-kata yang bisa membangkitkan semangat motivasi kehidupan. Juga ayat-ayat Al-Qur'an yang bisa ditampilkan di jembatan agar kembali mengingatkan.

Dilanjutkan, pembinaan mental dan spiritual juga bisa dilakukan. Dia melanjutkan saat ini pengajian, majelis taklim, hingga yasinan yang sudah kembali digelar.

"Pengajian sudah mulai banyak dilakukan oleh masyarakat. Tinggal bagaimana tetangga pamong desa itu mengetahui setiap masyarakatnya. Oh itu baru ada masalah, mungkin ada pendampingan khusus," katanya.

Selain itu tetangga juga harus gotong royong, dengan begitu diharapkan mudah mengidentifikasi masalah di masyarakat. Peran Ketua Rukun Tetangga (RT) dikatakan Yuni juga tidak kalah penting.

"Pak RT yang mengetahui betul kondisi warganya, karena orang mau cerai ke Pak RT orang kehilangan Pak RT apa-apa ke Pak RT. Nanti kita tekankan lagi pada saat bertemu dengan Pak RT," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved