Fokus

Fokus: Kapan Bisa Merdeka? Meleklah Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah mencapai usia 77 tahun. Selama usia itu pula bangsa ini telah banyak mengalami dinamisasi di dalam mau

Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda
Dok
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda. 

Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM - Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah mencapai usia 77 tahun. Selama usia itu pula bangsa ini telah banyak mengalami dinamisasi di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, berbagai permasalahan telah banyak dilalui, mulai konflik sosial, politik, budaya, krisis ekonomi. Terbaru, konflik persepsi antara Pesulap Merah dengan Gus Samsudin Blitar.

Terkadang, sering kita mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kritikus konyol yaitu, ke mana arah bangsa Indonesia? Mau dibawa ke mana bangsa Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini justeru menunjukan bahwa ia tak memahami nilai-nilai dasar ideology negara ini secara utuh. Pertanyaan itu dilontarkan hanya sebatas ingin menunjukan agar ia dianggap orang pintar seolah tahu ke mana arah jalan yang benar.

Ia lupa bahwa disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara, berarti Pancasila merupakan etika sosial, yaitu seperangkat nilai yang secara terpadu harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila menjadi arah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan menjunjung tinggi ketuhanan, nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Sedangkan wawasan nusantara merupakan landasan visional Indonesia, yakni sebagai penunjuk arahnya.

Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan akhir perjuangan. Meskipun Indonesia pascapandemi covid-19 saat ini dari perspektif ekonomi dunia masuk dalam kategori baik, namun bukan berarti tanpa ada tantangan. Sebab, dampak perang Rusia-Ukraina akan terus berimbas ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, terutama sektor energi

Ir Soekarno dalam pidato peringatan Proklamasi 17 Agustus 1945 Tahun 1958 berjudul Tahun Tantangan (1958) yang dimuat dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, menyampaikan;

“Janganlah takut kepada "persoalan". Dalam tiap-tiap bangsa yang sedang dalam pertumbuhan dan perpindahan, maka tiap-tiap kemujuan akan menimbulkan persoalan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya takut kepada kemajuan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya beku, ia sebenarnya konservatif, ia sebenarnya takut inisiatif.”

Namun jangan lupa, sebelum memikirkan penanganan persoalan besar tidak boleh melupakan hal sekitar. Untuk menangani kondisi sosial kemasyarakatan hingga pelanggaran kasat mata di lingkungan sendiri saja tidak mampu, bagaimana mau memikirkan yang besar?

Contoh, fakta bahwa penambangan Galian C di Rowosari, Tembalang, Kota Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Demak, yang kini dikenal Brown Cayon, dahulu merupakan bukit menjulang kini berubah menjadi ‘danau’ mengerikan.

Selain itu, memiliki dampak sangat buruk pada lingkungan, mulai jalan rusak dan sebagainya, itupun pemerintah daerah tutup mata. Dalam hal ini, kita tentu sangat tidak berharap lebih pada aparat untuk berani bertindak.

Ingat, proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 adalah mercusuar untuk membawa rakyat yang adil dan makmur. Maka, meleklah Indonesia, sebab Kemerdekaan bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi suatu momen yang tepat untuk mendalami kembali makna di baliknya yang belum tergapai, yaitu Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Merdeka!(*/tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved