Berita Semarang

Kasus DBD Diprediksi Meningkat Mulai Oktober, Dinkes Kota Semarang Siapkan Strategi Baru

Dinkes telah menyiapkan strategi baru untuk mencegah kenaikan kasus DBD di ibu kota Jawa Tengah yaitu dengan metode wolbachia

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Eka Yulianti Fajlin
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Semarang saat ini sudah menunjukan tren penurunan.

Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) memprediksi angka DBD akan mengalami peningkatan mulai Oktober atau memasuki musim penghujan. 

Kepala Dinkes Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, kasus DBD mulai mengalami penurunan sejak Mei lalu. Bahkan, pada Agustus ini, angka kasus sudah di bawah 10 kasus. Dia memprediksi kasus DBD akan mengalami kenaikan mulai Oktober hingga Desember mendatang. 

Dinkes telah menyiapkan strategi baru untuk mencegah kenaikan kasus DBD di ibu kota Jawa Tengah yaitu dengan metode wolbachia.

Cara ini sudah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan di Bantul dan Sleman. Hasilnya, kasus DBD turun hingga 77 persen dan angka kasus yang dirawat di rumah sakit juga turun 88 persen. 

Pada 2022 ini, Kota Semarang menjadi pilot project metode Wolbachia dari Kementerian Kesehatan bersamaan dengan empat kota lainnya yaitu Kupang, Bontang, Jakarta Barat, dan Bandung. 

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat proyek penanganan DBD dengan Wolbachia bisa segera dilaksanakan," ucap Hakam, Kamis (25/8/2022).

Metode ini, lanjut Hakam, akan dilakukan terutama di wilayah-wilayah yang memiliki angka kasus cukup tinggi.

Di Kota Semarang, beberapa wilayah yang memiliki kasus DBD tinggi yaitu Tembalang, Banyumanik, dan Ngaliyan. 

Dia memastikan, metode ini aman untuk lingkungan maupun manusia. Masyarakat tak perlu khawatir nantinya lingkungannya akan disebar nyamuk yang sudah berwolbachia. 

"Wolbachia adalah bakteri yang nantinya akan dimasukkan ke nyamuk Aedes Aegypti. Kalau ada nyamuk Aedes Aegypti yang berwolbachia, itu akan menjadi mandul atau tidak bisa menetas," terangnya. 

Dia menjelaskan, metode ini nantinya mengawinkan nyamuk Aedes Aegypti dikembangbiakkan di dalam ember yang tah dilubang

Setelah nyamuk kawin dengan nyamuk yang sudah memiliki Wolbachia, peranakan nyamuk baru tidak lagi mengeluarkan virus DBD

"Ember akan diletakan setiap 75 meter di daerah yang kasusnya tinggi. Harapannya, selama enam bulan hingga satu tahun sudah berkembangbiak banyak dan bisa menekan kasus DBD," paparnya. 

Meski metode ini nantinya bakal diterapkan, dia meminta setiap rumah tetap melakukan pemberantasan jentik nyamuk untuk semakin meminimalisir kaus DBD. (eyf) 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved