Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Sukoharjo

Cara ASN Sukoharjo Bantu Petani Lokal, Gaji Dipotong Buat Beli Beras, Dihargai Rp 11.000

Tujuan utama Gerakan Membeli Beras Sukoharjo bagi ASN ini untuk membantu dan menyerap produk gabah petani Sukoharjo. 

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
PEMKAB SUKOHARJO
Momentum Mentan bersama Bupati Sukoharjo memanen padi program IP 400, pada 22 Juni 2022. 

TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - ASN di Kabupaten Sukoharjo diimbau membeli produk beras lokal.

Ini dalam rangka membantu petani di Kabupaten Sukoharjo

Imbauan itu tertuang dalam SE Sekda Kabupaten Sukoharjo tentang Gerakan Membeli Beras Sukoharjo tertanggal 8 Agustus 2022. 

Baca juga: Hadir Lebih Dekat, Ditjen AHU Mudahkan Pelayanan Publik Bagi Masyarakat Sukoharjo

Dalam SE tersebut dijelaskan, beras yang dijual adalah beras premium seharga Rp 11 ribu per kilogram. 

Pembelian dilakukan dengan cara potong gaji, namun tidak ada paksaan. 

Potong gaji dilakukan karena sekarang ini gaji ASN sudah langsung ditransfer ke rekening pribadi. 

Sekda Kabupaten Sukoharjo, Widodo mengatakan, tujuan utama Gerakan Membeli Beras Sukoharjo bagi ASN ini untuk membantu dan menyerap produk gabah petani Sukoharjo

Terlebih saat ini Sukoharjo surplus beras.

Sehingga perlu gerakan ini untuk membantu penyerapan beras petani. 

"Ini sifatnya imbauan tidak ada kewajiban."

"Tujuannya jelas agar hasil petani di Kabupaten Sukoharjo semakin dikenal dan membantu petani."

"Jadi program ini adalah bentuk kepedulian pemerintah pada petani," jelas Sekda kepada Tribunjateng.com, Jumat (26/8/2022). 

Stok beras di Kabupaten Sukoharjo pada 2021 ada 184.449 ton.

Sementara kebutuhannya hanya 80.217 ton, sehingga ada surplus 104.232 ton. 

Padahal produksi padi terus digenjot dengan hadirnya program IP 400.

Baca juga: ND Masih Dicari, Terpeleset Jatuh ke Sungai Bengawan Solo, Korban Warga Perum Sritex Sukoharjo

Baca juga: Bupati Sukoharjo Bersama Gubernur Jateng Launching MPP Sevaka Bhakti Wijaya

Artinya ke depan, surplus beras di Sukoharjo diperkirakan lebih besar lagi dibandingkan 2021. 

"Sekali lagi ini adalah murni upaya pemerintah untuk membantu petani dalam memasarkan produk petani."

"Mengapa harus ASN?"

"Karena ASN juga bagian dari pemerintah."

"Jadi tidak ada salahnya ikut membantu para petani," imbuhnya. 

Disamping itu, bagi ASN yang gajinya sudah minus, kata Sekda, dipersilakan untuk tidak mengambil beras tersebut. 

"Tidak ada paksaan, tidak ada kewajiban, sifatnya adalah imbauan," tegas Sekda.

Terkait isu monopli karena hanya ada satu CV Semangat Baru yang melayani pembelian, Sekda menyebut secara teknis itu justru lebih memudahkan dalam pelayanan serta kontrol kualitas beras.

Selain itu, CV tersebut juga sudah menjalin kerja sama dengan Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) Sukoharjo serta Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Sukoharjo.

"Jadi intinya Pemkab Sukoharjo itu ingin membantu petani dan memfasilitasinya."

"Bahwa ada SE itu sifatnya adalah imbauan tidak memaksa."

"Kalau bukan pemerintah, siapa lagi yang akan membantu petani, khususnya di Kabupaten Sukoharjo," bebernya.

Narwan, dari CV Semangat Baru Sukoharjo mengatakan, selama ini pihaknya sudah bekerja sama terkait pengadaan beras dan pemasaran beras dengan pemerintah. 

"Beras atau gabah yang kami ambil itu dari petani Sukoharjo yang dihimpun oleh Perpadi dan BUMP."

"Perpadi dan BUMP itu ambilnya dari petani Sukoharjo secara langsung," kata Marwan kepada Tribunjateng.com, Jumat (26/8/2022).

Baca juga: INNALILLAHI! Noviana Dewi yang Hanyut di Bengawan Solo Sukoharjo Ditemukan Meninggal

Sigit, dari Perpadi Sukoharjo mengapresiasi Pemkab Sukoharjo yang sudah merealisasikan rencana pembelian beras petani dari Sukoharjo

Sebab rencana tersebut sudah lama diwacanakan, namun baru terealisasi.

Dia menjelaskan, anggota Perpadi Sukoharjo jumlahnya ratusan, tetapi yang terdata resmi baru ada 32 UD penggilingan beras. 

"Jadi kami menyerap langsung dari petani di Sukoharjo," jelas Sigit.

Sumardi, dari BUMP menjelaskan ada sejumlah Gapoktan yang berada di dalamnya.

Hanya saja belum semua Gapoktan itu mempunyai alat yang memadai. 

"Kalau di kami teknisnya menyerap gabah dari petani selanjutnya di bawa ke CV untuk dijadikan beras kualitas premium."

"Jadi kami juga menyerap dari petani langsung, baik GKP dan GKG," jelasnya. (*)

Baca juga: Satu Keluarga Terlihat Profesional, Kompak Curi Kucing Ras Seharga Rp 2,2 Juta di Petshop Semarang

Baca juga: Harga Telur Ras Saingi Daging Ayam, Selisihnya Cuma Rp 2.000 di Kabupaten Demak

Baca juga: Duh Kok Bisa? Temuan Bawaslu Jepara, Ada Ribuan Data Ganda Anggota Parpol

Baca juga: Hasil Drawing Liga Champions, Barcelona di Grup Neraka, AC Milan Gabung Chelsea

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved