Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI : Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa

DI Istana Negara, Jakarta, 17 Agustus 2022, orang-orang mendengar bahasa Jawa. Bahasa digunakan dalam lagu dibawakan bocah.

Tribun Jateng
Bandung Mawardi 

Oleh Bandung Mawardi

Penulis Nostalgia Bahasa Jawa: Pelajaran dan Bacaan

 DI Istana Negara, Jakarta, 17 Agustus 2022, orang-orang mendengar bahasa Jawa. Bahasa digunakan dalam lagu dibawakan bocah. Lagu asmara berbahasa Jawa, setelah orang-orang melakukan upacara dan mengingat sejarah Indonesia.

Peristiwa bereferensi 17 Agustus 1945. Bahasa Indonesia digunakan dalam upacara. Sekian menit setelah tegang dan lelah dengan peristiwa resmi, bahasa Jawa terdengar sebagai hiburan.

Pada 18 Agustus 2022, kita tak melihat upacara atau peringatan berdalih bahasa Indonesia. Hari bersejarah bertema konstitusi: 18 Agustus 1945. Sehari setelah pembacaan teks proklamasi, Indonesia memiliki UUD 1945. Di situ, ada pasal untuk bahasa Indonesia.

Sejak 17 Agustus 2022, orang-orang justru sibuk memikirkan lagu, tokoh, dan bahasa. Peristiwa di Istana Negara mengingatkan bahasa Jawa, selain bahasa Indonesia.

Hari-hari setelah Farel bersenandungAja Dibandingke, orang-orang tak berbahasa Jawa penasaran ingin mengetahui terjemahan atau arti lagu dalam bahasa Indonesia. Kerepotan menimpa mereka.

Kerepotan setelah Joko Widodo kadang menggunakan kata-kata dalam bahasa Jawa untuk pidato atau memberi keterangan di depan wartawan.

Beragam tanggapan bermunculan gara-gara pilihan kata itu berkaitan situasi politik dan masa depan kekuasaan pada 2024. Joko Widodo menambahi pesona bahasa Jawa dengan mengundang bocah bersenandung di Istana Negara dengan lirik berbahasa Jawa.

Mahsun dalam buku berjudulIndonesia dalam Perspektif Politik Kebahasaan(2015) menerangkan: “Pada tanggal 18 Agustus 1945, para pendiri bangsa ini memperteguhkan kembali sikap menempatkan bahasa sebagai fondasi dalam membangun semangat keindonesiaan kita.”

Penjelasan mengingatkan bahasa Indonesia dalam UUD 1945. Di Indonesia, mengingat dan memuliakan bahasa Indonesia sering berkaitan 28 Oktober 1928 ketimbang 18 Agustus 1945.

Perkembangan bahasa Indonesia dimulai dengan tulisan-tulisan atau dokumen-dokumen bersejarah. Pada masa berbeda, berjarak jauh dari 1928 dan 1945, nasib bahasa Indonesia penuh harapan dan kekhawatiran.

Mahsun mengungkapkan: “… para perekayasa bahasa melalui institusi kebahasaan pada kisaran tahun 1970-an sampai dengan tahun 1988 banyak menyerap kosakata bahasa Jawa.” Siasat itu memunculkan kritik-kritik pedas. Sekian pihak menganggap terjadi “proses penjawaan dalam bahasa Indonesia.”

Soeharto

Kebijakan dan kritik pasti dipengaruhi cara berbahasa Soeharto. Di lakon kekuasaan masa Orde Baru, Soeharto kadang menggunakan kata-kata dalam bahasa Jawa.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved