Fokus
Fokus: Tragedi Jogja
AWAN gelap kembali memayungi sepakbola Indonesia. Suporter PSS Sleman, Aditya Eka Putranda, meninggal akibat penganiayaan setelah menonton klubnya ber
Penulis: abduh imanulhaq | Editor: m nur huda
Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Abduh Imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM - AWAN gelap kembali memayungi sepakbola Indonesia. Suporter PSS Sleman, Aditya Eka Putranda, meninggal akibat penganiayaan setelah menonton klubnya bertanding di Liga 1 musim ini.
Kejadian ini memang tidak terjadi di dalam stadion atau lingkungan sekitarnya. Aditya yang berusia belia itu, 18 tahun, bersama tiga temannya dikeroyok di jalan dalam perjalanan pulang.
Pelakunya ditengarai beberapa pendukung sebuah klub yang sama-sama berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penyelidikan polisi, mereka sengaja memancing keributan dengan korban dan teman-temannya.
Ada 12 yang menjadi pesakitan dalam kasus ini dari semula 18 orang yang ditangkap. Satu di antaranya masih di bawah umur tetapi tega melancarkan provokasi sehingga terjadi pengeroyokan.
Mengenaskan, PSS tidak dalam kondisi bertanding melawan klub yang didukung pelaku. Mereka mengaku menganiaya Aditya cs karena dendam pernah diserang suporter lain tim asal Sleman tersebut.
Mungkin saja pengakuan itu sebatas klaim atau memang pernah terjadi. Satu yang tak bisa dipungkiri, kekerasan itu telah membuat nyawa melayang sia-sia.
Padahal duka sepakbola nasional atas meninggalnya Tri Fajar Nugroho, 23 tahun, masih belum usai. Tri yang juga suporter PSS berpulang setelah delapan hari koma akibat penganiayaan salah alamat.
Dia yang sedang bertugas sebagai juru parkir menjadi korban dari perseteruan dua kelompok suporter tim berbeda. Tri dan kawan-kawannya yang tidak tahu menahu tentang konflik itu tiba-tiba saja mendapat serangan.
Semakin jelas bahwa kerusuhan, kericuhan, dan keributan makin identik dengan suasana kompetisi sepakbola nasional di Indonesia. Setuju atau tidak, disangkal atau tidak, memang begitu kondisinya. Tentu saja kita prihatin.
Kalau terus dibiarkan tanpa upaya serius mengatasinya, bisa-bisa bertambah pilihan kata lain yang identik dengan laga sepakbola. Liar, barbar atau binal, misalnya.
Semua bisa menyampaikan dalih. Segala hal bisa menjadi alasan. Sudah banyak yang membuat riset, menulis buku, dan menyusun liputan mendalam mengenai musabab kerusuhan dalam sepakbola lokal di Indonesia.
Begitu pula mengenai cara meminimalkan, bahkan menihilkan konflik. Baik secara struktural maupun kultural, sektoral maupun integral. Kampanye fairplay dan sportivitas digaungkan. Lagi-lagi masih jauh panggang dari api.
Kepada keluarga Aditya dan Tri Fajar, kita sampaikan rasa duka cita yang mendalam. Kita tentu berharap keduanya menjadi korban terakhir dari keliaran pelaku sepakbola nasional.
Hukuman berat harus dijatuhkan kepada pelaku. Supaya menjadi pelajaran penting kepada suporter bahwa semua kesalahan bakal mendapat hukuman setimpal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/abduh-imanulhaq-atau-aim-wartawan-tribun-jateng_20170825_072028.jpg)