OPINI
OPINI : Buat Apa Kuliah?
WAKTU-WAKTU ini adalah fase mahasiswa baru sudah mulai aktif. Untuk mahasiswa baru pastilah diminta untuk mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus
Oleh: Janu Arlinwibowo
Pemuda Muhammadiyah Kudus
WAKTU-WAKTU ini adalah fase mahasiswa baru sudah mulai aktif. Untuk mahasiswa baru pastilah diminta untuk mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Momentum tersebut mengingatkan kita tentang urgensi menjadi seorang mahasiswa di tahun 2022.
Gelar Akademik
Gelar akademik adalah bukti formil bahwa kita pernah menempuh suatu jejang pendidikan di suatu lembaga. Kenapa disebut gelar akademik? Karena ada banyak gelar lain yang berasal dari luar dunia pendidikan.
Berbincang masalah gelar akademik, 30 tahun lalu mungkin kita langka menemukan nama seseorang dengan tambahan gelar akademik di dokumen formal ataupun kartu nama.
Penulis masih ingat betul betapa keramatnya gelar Ir dan Dra saat itu, dimana seribu satu orang yang memilikinya. Benar-benar orang top yang mampu mendapatkan gelar tersebut dikala itu, mahal, sulit, dan sangat kramat. Belum lagi untuk gelar level pendidikan magister dan doktoral, rasanya saat itu hanya disandang oleh seorang “dewa”.
Seiring bergulirnya waktu, seiring kampanye pendidikan terus menggema. Tanpa perlu membaca data statistik dari Kemdikbud atau BPS, penulis sangat yakin bahwa kondisi sudah berubah. Pemerataan pendidikan sudah semakin baik dan menyentuh ke seluruh lapisan masyarakat. Perguruan tinggi semakin banyak, tawaran beasiswa semakin berlimpah.
Jika jaman dulu orang harus jatuh bangun untuk kuliah, saat ini hanya cukup punya semangat dan kemauan saja, pasti ada jalan untuk kuliah setinggi mungkin. Bahkan tidak hanya sampai level sarjana, sampai level doktoral pun sudah banyak fasilitas beasiswa. Sekali lagi, tanpa melihat data resmi pun kita sudah pasti sangat mudah menyimpulkan bahwa populasi orang bersekolah sudah jauh lebih banyak.
Fatamorgana
Namun, melihat fakta demikian, marilah kita bertanya-tanya. Kalau kita berpikir dengan logika absolut linear maka jelas semakin banyak orang terdidik maka semakin berkualitas pula sumber daya manusia di bangsa ini. Salah satu indikator dalam Human Development Index pun tentu meningkat pesat pada indikator pendidikan.
Tapi, pelan-pelan mari kita runut, benarkah demikian? Benarkah semakin banyak orang dengan gelar akademik akan baik untuk bangsa ini? Sebelumnya kita perlu merenung dan membuka pikiran untuk terbuka pada kenyataan.
Ada kegelisahan yang penulis rasakan dengan situasi pendidikan dewasa ini. Jika terus seperti ini, animo untuk sekolah setinggi-tingginya semakin besar. Bagaimana jika suatu saat jika mayoritas orang telah memiliki gelar sarjana? Kondisi lebih ekstrim lagi jika mayoritas sudah bergelar magister.
Sebelum lanjut, pembaca boleh saja meragukan kalimat kedua saya. Tapi saya akan coba tunjukkan fakta, 40 tahun lalu mayoritas warga Indonesia hanya berijazah SMP lalu berlanjut 20 tahun lalu rata-rata berijazah SMA, terus beranjak sekarang semakin banyak orang dengan ijazah D3 dan S1.
Kegelisahan pertama menyangkut pada populasi orang yang baru saja lulus sekolah atau kuliah. Mari kita lihat sekarang di dunia ilmu pendidikan atau biasa disebut calon guru, banyak bertebaran dimana-mana magister pendidikan yang sudah mulai kesulitan untuk mencari pekerjaan.
Celakanya, banyak diantaranya tidak punya daya untuk membangun usaha. Jadilah mereka beraktifitas tanpa sesuai dengan harapan dan gairah kerja mereka. Lebih dramatis jika kelak ada data bahwa banyak orang dengan gelar sarjana dan magister yang tidak mampu berkompetisi.
Lalu akan menjadi pertanyaan terkait waktu sekolah yang telah mereka luangkan, biaya yang telah mereka keluarkan, dan energi yang mereka habiskan. Penulis tentu tidak berani bilang sekolah sampai tinggi itu tidak ada gunanya, hanya akan bilang terkait dengan efektifitas. Sebandingkah apa yang diupayakan dan apa yang didapat?
Seandainya mereka tidak kuliah apakah nasibnya pasti lebih buruk? Pertanyaan ini bisa kita renungkan bersama.
Kepangkatan
Kegelisahan kedua terkait dengan populasi pegawai yang sekolah untuk kebutuhan kepangkatan. Situasi di populasi ini sangat dilematis. Di satu sisi mereka dituntut memiliki gelar untuk kepentingan administratif, di lain sisi sudah tidak ada lagi semangat belajar. Ini akan menggiring pendidikan untuk dikapitalisasi agar dapat memfasilitasi orang-orang yang sangat butuh gelar namun mungkin tidak terlalu butuh ilmunya.
Tentu saya sangat yakin tidak semua orang demikian, tapi kita juga harus lapang dada mengakui bahwa ada (atau mungkin banyak) yang mengambil sikap demikian. Alasan-alasan seperti usia, sibuk bekerja, sedang menjabat, ataupun kewajiban mengurus anak digadaikan agar kemalasan belajarnya dimaklumi.
Gelar menjadi tidak sakral (walaupun seremonial tetap jalan) saat idealisme pendidikan sudah dapat ditawar-tawar. Marwah pendidikan runtuh dalam sekejap saat prosesnya sudah bisa dilalui dengan cara main mata.
Harus Kompetitif
Dalam perenungan yang lebih dalam, muncul pertanyaan, lalu bagaimanakah sebaiknya. Pendidikan sebaiknya menitikberatkan pada capaian-capaian yang diinginkan. Untuk masalah penguasaan kompetensi minimal seharusnya institusi pendidikan tidak boleh melakukan tawar menawar.
Orientasi terhadap kualitas lulusan harus mengalahkan kuantitas lulusan. Alasannya adalah karena jangan sampai kita mendesain fatamorgana dan kita tertipu sendiri oleh bias-bias indah yang kita buat. Mutlak bahwa lulusan perguruan tinggi di semua jenjang haruslah kompetitif sesuai dengan bidang keahliannya. Setuju? (*)
Baca juga: Mahfud MD Sampaikan Materi Wawasan Kebangsaan bagi Generasi Muda di Hadapan 4.388 Mahasiswa Baru USM
Baca juga: Pesulap Merah Santai Tanggapi Ancaman Rara Pawang Hujan: Itu Promosi Dia Saja
Baca juga: Keluhkan Harga BBM Naik, Driver Ojol di Pati Berharap Bisa Dapat Bantuan Subsidi Upah Pemerintah
Baca juga: Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi, 80 Stan UKM Ramaikan Pekan Raya Cepu 2022
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-wisuda_20151106_134653.jpg)