Berita Pekalongan
Lomba Membatik Diikuti 92 Siswa SD di Kota Pekalongan, Aaf: Agar Pelajar Tahu Prosesnya
92 siswa SD sederajat di Kota Pekalongan mengikuti lomba yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Batik Nasional, pada 2 Oktober 2022.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Puluhan pelajar SD se- Kota Pekalongan mengikuti lomba membatik di Museum Batik Pekalongan, Rabu (7/9/2022).
Total keseluruhan peserta berjumlah 92 orang.
Mereka mengikuti lomba yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Batik Nasional, pada 2 Oktober 2022.
Baca juga: Pesan Habib Luthfi dalam Acara Peletakan Batu Pertama Tugu Perjuangan Pekalongan
Baca juga: Kenang Peristiwa 3 Oktober 1945, Tugu Perjuangan Masyarakat Pekalongan Dibangun di Stadion Hoegeng
Ada enam tahapan proses membatik dalam lomba yang diikuti oleh pelajar SD itu.
Mulai dari proses njiplak, nyanting, nyolet, mopok, nyelup, hingga nyolorot.
Sementara untuk penilaian akan dilihat dari kehalusan, kerapian, dan motif.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mengatakan, tujuan lomba membatik ini untuk melahirkan bibit-bibit penerus pembatik asal Kota Pekalongan.
Sekaligus untuk meningkatkan semangat pelajar dalam melestarikan batik.
Sebab, Pekalongan sudah terkenal dan berlabel Kota Batik.
"Jadi jangan sampai pelajar ini tidak tahu prosesnya."
"Jadi ini sekaligus pengenalan mulai dari nyanting, ngecap, pewarnaan, sekarang ada batik tulis, nglowongi, dan sebagainya," kata Aaf, sapaan akrabnya itu kepada Tribunjateng.com, Rabu (7/9/2022).

Baca juga: Bapak Asuh Anak Stunting Bakal Jadi Program Tekan Angka Stunting di Kota Pekalongan
Baca juga: Tinjau Proyek Tanggul Laut di Pekalongan, Ganjar Senang Dengar Curhatan Warga Tidak Kebanjiran Lagi
Aaf mengatakan, paling tidak dasar dari membatik harus diketahui oleh para pelajar.
Mulai dari pelajar tingkat SD hingga SMA sederajat.
"Syukur-syukur mereka semakin mencintai batik."
"Bisa jadi pengusaha batik, jadi pengrajin batik, atau konsultan batik," ungkapnya.
Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sutarno menambahkan, perlombaan membatik tingkat pelajar ini adalah untuk regenerasi.
Perlombaan ini diselenggarakan untuk berbagai tingkatan, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA sederajat.
Sehingga perlombaan tersebut penting untuk melestarikan batik.
"Jangan sampai Batik Pekalongan yang sudah terkenal bahkan diakui oleh UNESCO sebagai warisan tak benda, jadi terlepas."
"Makannya kami melakukan upaya-upaya untuk regenerasi," ujarnya. (*)
Baca juga: Warga Binaan Rutan Salatiga Juga Dites HIV, Tak Cuma Ikuti Vaksinasi, Ini Tujuannya
Baca juga: Satu Cara Pemerintah Bikin Kota Semarang Makin Sejuk, Disperkim: Ajak Siapapun Tanam Ribuan Pohon
Baca juga: Kata Masan Menyoal Nasib UMKM di Kudus: Perlu Dukungan Pemerintah Daerah
Baca juga: Misteri Mayat di Bengawan Solo Sukoharjo Terungkap, Korban Dianiya Saat Nonton Acara Musik