Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Tegal

Cerita AKP Migran Tegal Sukses Melaut Hingga Punya Usaha Dekorasi dan Laundry

Bekerja sebagai awak kapal perikanan (AKP) migran diyakini masih menjadi pekerjaan yang menjanjikan.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: rival al manaf
Capt foto / dok SAFE Seas.
AKP migran, Untung Santoso (batik kuning) warga Desa Karibaya, Kramat, Kabupaten Tegal  telah malang melintang di dunia kapal perikanan asing selama belasan tahun hingga mampu memiliki beragam usaha di Tegal , Rabu (7/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM,TEGAL - Bekerja sebagai awak kapal perikanan (AKP) migran diyakini masih menjadi pekerjaan yang menjanjikan.

Hal itu sudah dibuktikan oleh Untung Santoso (44) warga Desa Karibaya, Kramat, Kabupaten Tegal yang telah malang melintang di dunia kapal perikanan asing.

Bidang tersebut digelutinya sejak tahun 2004 selepas hampir lima tahun menjadi nelayan lokal.

Ia kini mampu memiliki usaha lain hasil dari bekerja di kapal yakni usaha rias pengantin, dekorasi dan laundry yang dijalankan istrinya di rumah mereka di pinggir jalan pantura Tegal.

"Iya, alhamdulillah pokoknya, namanya manusia berusaha," jelasnya kepada Tribunjateng.com saat ditemui di rumahnya, Rabu (7/9/2022) .

Ia sekarang di kapal asing berposisi sebagai petugas pemroses ikan.

Di posisi itu, gaji pokok plus tunjangan diterimanya total rata-rata Rp15 juta perbulan.

"Kontrak ya setahun, bisa juga delapan bulan," terangnya.

Ia berpesan, kepada siapapun hendak berangkat menjadi AKP migran harus  memastikan kantor perusahaan keagenan awak kapal (manning agency) dengan pasti.

Perusahaan harus dipastikan terdaftar sekaligus termasuk Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) resmi.

Selain itu, mengikuti jejak orang yang sudah sukses di bidang tersebut juga penting daripada memilih perusahaan penyalur baru yang belum tentu terjamin.

"Intinya perusahaan penyalurnya. Kalau salah perusahaan kasihan nanti terlantar atau gaji tak dibayar," tuturnya.

Terpisah,  SAFE Seas Project Manager, Hari Sadewo mengatakan, menjadi ABK Migran semakin diminati oleh ABK domestik karena gaji lebih besar  dan rutin perbulan terutama  di kapal Eropa dan Jepang.

"Jaminan dan kepastian gaji lebih baik. Berbeda dengan upah di kapal dalam negeri yang memakai sistem bagi hasil," jelasnya kepada Tribunjateng.com di kantor Fisher Center, Tegal.

Kendati lebih menggiurkan,  bekerja sebagai ABK migran akan lebih berisiko baik dari pra pemberangkatan, pemberangkatan hingga pulang dari kapal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved