Berita Blora

Peluang Karir dan Tantangan Pelaut di Sektor Maritim

Keterampilan tenaga kerja maritim perlu mengimbangi perkembangan teknologi.

Penulis: ahmad mustakim | Editor: sujarwo
TRIBUNMURIA/AHMAD MUSTAKIM
Direktur Perkapalan dan Kepelautan (DIRJENHUBLA), H. Ahmad Wahid,S.T.,MT.M.Mar.E dalam Seminar Nasional Kampus Politeknik Bumi Akpelni ke-4 yang digelar secara daring, Rabu 7 september 2022. 

TRIBUNMURIA.COM, BLORA – Keterampilan tenaga kerja maritim perlu mengimbangi perkembangan teknologi dan pertumbuhan sektor industri yang pesat. 

Dengan pola adaptasi tersebut akan meningkatkan peluang dalam memetakan jalur karir dan membangun tingkat profesionalisme dalam pekerjaan. 

Direktur Perkapalan dan Kepelautan (DIRJENHUBLA), H. Ahmad Wahid,S.T.,MT.M.Mar.E mengatakan, integrasi program-program yang mewakili kebutuhan dunia industri ke dalam sistem pendidikan dan pelatihan maritim akan memungkinkan pendekatan proaktif terhadap perencanaan karir dan mendukung mobilitas lintas sektor.

“Mulai Perkembangan Artificial Intelegence (AI) dan Internet of Things (IoT) terhadap pergeseran ICT pada revolusi industry 4.0. Dampak pandemic Covid-19 terhadap perubahan kehidupan sosial bermasyarakat,” ucapnya dalam Seminar Nasional Kampus Politeknik Bumi Akpelni ke-4 yang digelar secara daring, Rabu 7 september 2022.

Kemudian, perkembangan desain Autonomous Ship, Wings in Ground dan Kapal Selam Wisata serta Pemberdayaan Kapal Pelra terhadap peluang kerja diatas kapal.

“Serta adaptasi perkembangan E-TRB, Distance Learning dan Remote Inspection
Sertifikasi Pelaut berbasis elektronik,” ujarnya.

Dengan konstelasi angkutan laut Indonesia, Wahid mengungkapkan tantangan yang harus dihadapi ke depannya.

Adapun total 7,8 Juta km2 Area Yuridis, 5,9 Juta km2 Area Yuridis Laut, 1.9 Juta Km2 Daratan, 267 Juta Penduduk dengan 16.056 Pulau, 34 Provinsi, 95.000 km Garis Pantai dan 3 Jalur Pelayaran Strategis.

“Tantangannya disparitas, pertumbuhan ekonomi tidak seimbang antara kawasan barat dan timur Indonesia. Konektivitas, daerah terluar – daerah perbatasan – daerah belum berkembang,” terangnya.

“Biaya logistik, infrastruktur kurang memadai – ketidakseimbangan kargo dan Finansial, daerah terluar – daerah perbatasan – daerah belum berkembang,” imbuhnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved