Kamis, 30 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Blora

Peluang Karir dan Tantangan Pelaut di Sektor Maritim

Keterampilan tenaga kerja maritim perlu mengimbangi perkembangan teknologi.

Tayang:
Penulis: ahmad mustakim | Editor: sujarwo
TRIBUNMURIA/AHMAD MUSTAKIM
Direktur Perkapalan dan Kepelautan (DIRJENHUBLA), H. Ahmad Wahid,S.T.,MT.M.Mar.E dalam Seminar Nasional Kampus Politeknik Bumi Akpelni ke-4 yang digelar secara daring, Rabu 7 september 2022. 

TRIBUNMURIA.COM, BLORA – Keterampilan tenaga kerja maritim perlu mengimbangi perkembangan teknologi dan pertumbuhan sektor industri yang pesat. 

Dengan pola adaptasi tersebut akan meningkatkan peluang dalam memetakan jalur karir dan membangun tingkat profesionalisme dalam pekerjaan. 

Direktur Perkapalan dan Kepelautan (DIRJENHUBLA), H. Ahmad Wahid,S.T.,MT.M.Mar.E mengatakan, integrasi program-program yang mewakili kebutuhan dunia industri ke dalam sistem pendidikan dan pelatihan maritim akan memungkinkan pendekatan proaktif terhadap perencanaan karir dan mendukung mobilitas lintas sektor.

“Mulai Perkembangan Artificial Intelegence (AI) dan Internet of Things (IoT) terhadap pergeseran ICT pada revolusi industry 4.0. Dampak pandemic Covid-19 terhadap perubahan kehidupan sosial bermasyarakat,” ucapnya dalam Seminar Nasional Kampus Politeknik Bumi Akpelni ke-4 yang digelar secara daring, Rabu 7 september 2022.

Kemudian, perkembangan desain Autonomous Ship, Wings in Ground dan Kapal Selam Wisata serta Pemberdayaan Kapal Pelra terhadap peluang kerja diatas kapal.

“Serta adaptasi perkembangan E-TRB, Distance Learning dan Remote Inspection
Sertifikasi Pelaut berbasis elektronik,” ujarnya.

Dengan konstelasi angkutan laut Indonesia, Wahid mengungkapkan tantangan yang harus dihadapi ke depannya.

Adapun total 7,8 Juta km2 Area Yuridis, 5,9 Juta km2 Area Yuridis Laut, 1.9 Juta Km2 Daratan, 267 Juta Penduduk dengan 16.056 Pulau, 34 Provinsi, 95.000 km Garis Pantai dan 3 Jalur Pelayaran Strategis.

“Tantangannya disparitas, pertumbuhan ekonomi tidak seimbang antara kawasan barat dan timur Indonesia. Konektivitas, daerah terluar – daerah perbatasan – daerah belum berkembang,” terangnya.

“Biaya logistik, infrastruktur kurang memadai – ketidakseimbangan kargo dan Finansial, daerah terluar – daerah perbatasan – daerah belum berkembang,” imbuhnya.

Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP INSA, Capt.ZAENAL ARIFIN HASIBUAN,M.MAR dalam seminar ini mengungkapkan 3 kata kunci yakni Adagium ; Ship follows the trade, Poros Maritim Dunia dan Selat Sumatera.

“Pakem Ship follows the trade dalam konteks kapal niaga, beberapa hal harus dipahami dan dijadikan dasar pengembangan bisnis maritim. Poros Maritim Dunia, sebuah jalur pelayaran ramai yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu dimana kapal berlayar membawa muatan dan pergi mencari muatan,” terangnya.

Kemudian Selat Sumatera, tentang keberanian mengakui penguasaan terpanjang atas selat tersebut adalah Indonesia. 

“Kuala Lumpur ada di depan TSS / Port Klang/ One Fathom bank, Singapura ada di jalur tersebut, sementara ekonomi Indonesia terpusat di Pulau Jawa (Tg Priok, Tg perak, Tg emas). Menghidupkan ekonomi/ pelabuhan skala internasional di  jalur tersebut/ Pantai Barat Sumatera( Kuala Tanjung, Tg Balai Karimun, Batam,” jelasnya.

Direktur Utama PT,PELINDO Terminal Petikemas, Muhammad Adji, mengatakan, Bisnis kepelabuhanan sejauh menunjukkan tingkat ketahanan yang cukup baik dibandingkan industry lainnya terhadap kondisi krisis ekonomi yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved