Berita Pemalang

Nasib AKP Migran Asal Pemalang: Hilang di Lautan, Hak Asuransi Tak Kunjung Datang

Rusmini (bukan nama sebenarnya) tangisnya pecah ketika ceritakan nasib nahas anaknya.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Iwan Arifianto
Ilustrasi. SAFE Seas Project Yayasan Plan Internasional Indonesia saat menerima aduan awak kapal perikanan (AKP) yang bermasalah dengan manning agency di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari, Kota Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM,PEMALANG - Rusmini (bukan nama sebenarnya) tangisnya pecah ketika menceritakan nasib nahas anaknya berinisial IA (26) seorang awak kapal perikanan (AKP) migran yang hilang kontak di perairan Hawaii, Amerika Serikat, pada bulan Desember 2020 silam.

Informasi dari perusahaan perekrut dan penempatan awak kapal (manning agency) menyebutkan, anaknya bersama sembilan AKP lainnya hilang kontak akibat disapu badai di perairan tersebut.

Belakangan diketahui, kapal berbendera Taiwan Yong Yu Sing 18 yang mengangkut korban ditemukan di dekat pulau Midway, pada 2 Januari 2021, dengan kondisi tanpa awak kapal.

Total ada 10 orang di kapal tersebut, satu kapten warga Taiwan dan sembilan orang Indonesia.


"Ketika dikabari kejadian itu badan tidak ada tenaga sama sekali. Badan tidak bisa apa-apa," ujar perempuan berusia kepala lima itu kepada Tribunjateng.com di rumahnya, Pemalang, Jumat (9/9/2022).

Anak Rusmini memang sudah lama berhasrat menjadi AKP migran lantaran melihat para teman sebayanya kerja di kapal negara asing.

Pekerjaannya sebagai AKP domestik di kapal penangkap cumi bagi korban masih dirasa kurang dari segi pendapatan maupun pengalaman.

Ia mengungkapkan, anaknya ketika meminta izin kepadanya yakni hendak  mencari pengalaman di kapal asing.

Izin pun keluar dari mulutnya karena anaknya ketika itu hendak berangkat bersama seorang kerabatnya sehingga tak terlalu membuatnya khawatir.

Anaknya pun bertolak ke Taiwan pada September 2019. Selang setahun kemudian kapal pencari ikan mengalami musibah pada Desember 2020.

"Mereka awalnya satu kapal tapi saudaranya dipulangkan karena kapten tidak suka berbeda dengan anak saya yang dekat sama kapten kapal," bebernya.

Selama bekerja korban sempat mentransfer gaji ke ibunya selama dua kali. Transfer pertama sebesar Rp9 juta selang beberapa bulan kemudian mentransfer sebabyak Rp30 juta.

"Habis itu tidak ada kabarnya lagi, ditelpon sudah tidak bisa," ujarnya.

Selepas nahas para AKP itu, pihak manning agency mengumpulkan keluarga dari AKP.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved