Berita Semarang

Kriminolog Undip Sesalkan Polisi Tak Melindungi Saksi Dugaan Kasus Korupsi Iwan Budi

Polisi harusnya punya hati nurani untuk melindungi, otot untuk mengayomi, dan otak untuk memikirkan risiko ASN sebagai saksi dalam bahaya.

Tribun Jateng/Rahdyan Trijoko Pamungkas
Mochi anjing kesayangan Iwan Budi mengendus potongan tubuh yang ditemukan di Jalan Raya Marina, Rabu (14/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Pakar Krimonologi Universitas Diponegoro, Budi Wicaksono menyayangkan polisi tidak melindungi PNS Bapenda Iwan Budi saat akan diperiksa menjadi saksi terkait dugaan kasus korupsi tanah di Mijen.

Budi menyebutkan dalam UU Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara republik Indonesia, Polisi memiliki tugas jelas di antaranya sebagai penegak hukum, melindungi dan melayani masyarakat.

Hal tersebut seharusnya diterapkan kepada wan Budi yang dipanggil menjadi saksi tindak pidana korupsi.

"Nah ini melindungi kita tidak usah menunjuk pasalnya sampai njlimet.Melindungi saja kalau kalau melihat kasusnya itu bahaya seperti dialami pak ASN ini (Iwan) ketika  bersaksi dia bisa dibunuh," ujarnya, Jumat (16/9/2022).

"Kalau pak polisi yang pintar dan peduli dia harusnya melindungi.  Karena tugas polisi harus mengayomi. Jadi melindungi saksi tidak perlu harus Pro Justicia atau naik penyidikan," jelasnya.

Menurutnya, Polri harus tahu kemungkinan bahaya yang dihadapi saksi saat memberikan keterangan.

Paling tidak Polisi bisa mengarahkan dan mendaftarkan saksi ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

" Jadi waktu memanggil saksi sudah tahu masalah peristiwanya. Ini yang terlibat menjadi saksi yakni ASN bisa bahaya. Harusnya sudah tahu dan mengira meskipun tidak selalu terjadi," tutur dia.

Ia menuturkan Polisi sepatutnya melindungi Iwan saat sebelum dilaporkan hilang.

Polisi harus paham masalah yang akan dihadapi oleh saksi tersebut.

"Seperti yang dikatakan Prof Satjipto Rahardjo Polisi harus H2O yaitu punya hati nurani, otot, dan otak," kata dia.

"Hati nurani untuk melindungi, punya otot untuk mengayomi, dan otak mikir ASN ini bahaya meskipun belum penyidikan baru penyelidikan. Meski belum pro justicia itu belum resmi tugas polisi tapi secara umum hakikat Polisi harus sudah melindungi," tandasnya. (*)
 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved