Berita Jateng

Kerugian Capai Rp 31,2 Triliun Pada 2035, Ganjar : Perlu Ada Visi Jelas Penanganan Rob

Lebih dari 5,700 Ha di Pekalongan akan tergenang banjir pada tahun 2035 dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 31,28 triliun

Penulis: hermawan Endra | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/Hermawan Endra
Dialog Kebijakan yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia (MCI) dan Ikatan Ahli Perencanaan Jawa Tengah (IAP Jateng) bertajuk ‘Masa Depan Pekalongan: Konsekuensi dari Tiap Kebijakan dan Tindakan’. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 21 September 2022 di Hotel Aruss Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebagai wilayah pesisir, Kota dan Kabupaten Pekalongan perlu membangun ketahanan wilayahnya dalam menghadapi ancaman banjir. Kunci utamanya melalui perumusan kebijakan yang transformatif.

Hal ini menjadi pembahasan utama Dialog Kebijakan yang diselenggarakan Mercy Corps Indonesia (MCI) dan Ikatan Ahli Perencanaan Jawa Tengah (IAP Jateng) bertajuk ‘Masa Depan Pekalongan: Konsekuensi dari Tiap Kebijakan dan Tindakan’.

Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 21 September 2022 di Hotel Aruss Semarang dan dihadiri Ganjar Pranowo, selaku Gubernur Jawa Tengah dan Fadia Arafiq, S.E, M.M selaku Bupati Pekalongan, serta perwakilan dari elemen pemerintah daerah, akademisi, praktisi dan NGO.

“Perlu ada visi yang jelas dalam mengimplementasikan strategi penanganan banjir rob, karena kalau permasalahan rob itu dari mana, kita semua sudah tahu ada land subsidence, pemanasan global, kenaikan muka laut," ucapnya.

"Kita harus memilih, apakah kita mau adaptasi, membangun infrastruktur, atau memindahkan aktivitas (yang terkena dampak banjir),” jelas Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Baca juga: Terbukti Sukses Atasi Banjir Rob Semarang, Fraksi PDIP DKI Rayu Hendi Jadi Gubernur Jakarta 2024

Banjir adalah isu yang telah terjadi selama bertahun-tahun di Kota dan Kabupaten Pekalongan, dengan kerugian yang sangat signifikan. Studi MCI yang dilakukan di tahun 2020 memprediksi kombinasi dari faktor iklim dan non-iklim akan meningkatkan tingkat risiko dan kerugian banjir di Kota dan Kabupaten Pekalongan.

Lebih dari 5,700 Ha wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan diperkirakan akan tergenang akibat banjir di tahun 2035, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp. 31,28 triliun per tahun di tahun yang sama, atau 20 kali lipat dari kerugian tahun 2020.

"Strategi penanganan banjir konvensional tidak bisa lagi diterapkan, sehingga diperlukan semangat transformatif dan kolaboratif perlu melandasi langkah pembangunan wilayah ke depannya," ujarnya.

Baca juga: Banjir Rob di Bonang Demak, Peninggian Jalan Diperlukan untuk Geliatkan Perekonomian Warga

"Kami memandang kerjasama antar daerah dan kolaborasi multipihak menjadi pintu gerbang menuju penanganan banjir yang lebih berkelanjutan dan efektif dari segi pembiayaan,” tutur Ade Soekadis, Direktur Eksekutif MCI.

Dukungan dari berbagai pihak menjadi kunci di dalam perencanaan dan implementasi kebijakan yang transformatif. 

Kolaborasi dengan aktor non-pemerintah, termasuk masyarakat, diakui oleh M. Yulian Akbar, S.Sos, M.Si, Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan sebagai hal yang penting.

Dia juga menegaskan kebutuhan inovasi pendanaan. 

Sementara, Erli Nurfiati, S.E, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Pekalongan menyatakan diperlukan adanya aksi yang bersifat terobosan dalam menangani isu permukiman dan perekonomian pada lahan yang tergenang secara permanen.

Dalam acara ini juga disepakati bahwa diperlukan Kerja Sama Antar Daerah antara Kota dan Kabupaten Pekalongan dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menyusun dan mengimplementasikan kebijakan yang transformatif untuk membangun ketahanan banjir di Pekalongan, meliputi adaptasi Wilayah, pengendalian banjir, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), implementasi aksi berketahanan, dan penguatan regulasi. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved