Berita Sukoharjo

Punya Beragam Inovasi Pengelolaan Sampah, Sukoharjo Raih Penghargaan Nirwasita Tantra 2022

Kabupaten Sukoharjo kembali menerima penghargaan di bidang lingkungan hidup Nirwasita Tantra karena berbagai inovasi di bidang tersebut.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/Khoirul Muzakki
Pemilahan sampah di Desa Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo   

TRIBUNJATENG. COM, SUKOHARJO - Di Tahun 2022 ini, Kabupaten Sukoharjo kembali menerima penghargaan di bidang lingkungan hidup Nirwasita Tantra.

Penghargaan ini bukan pertama kalinya, namun sudah beberapa kali berturut-turut dari tahun-tahun sebelumnya. 

Penghargaan ini tidak berlebihan. Berbagai inovasi di bidang lingkungan hidup memang berhasil dilakukan Kabupaten Sukoharjo.

Baca juga: Peringati World Cleanup Day di Banyumas, Adakan Aksi Pungut dan Pilah Sampah

Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengatakan, pada isu permasalahan sampah dan limbah B3 misalnya, Pemkab Sukoharjo telah mendorong penanganan sampah dari sumbernya. 

Dia mencontohkan,  di Kabupaten Sukoharjo, ada 189 Bank Sampah, 14 lokasi TPS 3R, 4 tempat pemrosesan kompos, dan budidaya magot dengan memanfaatkan sampah organik.

Itu semua muaranya untuk mengatasi permasalahan sampah. 

“Bisa mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA,”katanya, Jumat (23/9/2022) 

Pihaknya juga mendorong pembuatan biodigester skala rumah tangga untuk mengubah sampah menjadi sumber energi, misal untuk memasak. 

Tak hanya persoalan sampah, pihaknya juga membuat program untuk mencegah penurunan kualitas air, di antaranya dengan program Kali Bersih, serta mengkaji kapasitas daya tampung sungai dan menelusuri sumber pencemaran. 

Dari situ akan dirumuskan titik prioritas penanganan agar tidak menjadi beban pencemaran air. 

Pada tahun 2021, terdapat 190 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik komunal di Sukoharjo, IPAL Biogas di 71 titik, dan IPAL industri kecil batik dan alkohol. Serta program jambanisasi di  masyarakat. Itu semua muaranya untuk mengurangi penurunan kualitas air karena pencemaran. 

“Juga kegiatan resik sungai inisiasi masyarakat untuk memerbaiki kondisi sungai dan meminimalisasi penurunan kualitas air,” katanya.

Baca juga: Bupati Tegal Umi Azizah Resmikan Taman Edukasi Sampah Terpadu Ujungrusi 

Pihaknya juga berusaha menekan penurunan kualitas udara, di antaranya dengan melakukan program penghijauan melalui Ruang Terbuka Hijau (RTH), gerakan penanaman pohon yang melibatkan pemangku kepentingan, pelaku usaha hingga masyarakat. 

Di Kabupaten Sukoharjo, juga terbentuk 53 kampung iklim yang sadar terhadap isu perubahan iklim.

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved