Berita Sragen
Batik Sragen Banyak Diminati Para Pejabat, Windasari Jadi Tempat Langganan Istana Negara
Batik tulis Windasari di Desa Kliwonan disebut-sebut jadi langganan para pejabat.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Batik tulis Windasari di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen disebut-sebut jadi langganan para pejabat untuk sekedar souvernir maupun dipakai sendiri.
Bahkan sekretariat kepresidenan dari Istana Negara juga kerap memesan batik yang dimiliki Kades Kliwonan yang juga Pemilik Batik Tulis Windasari, Aswanda ini.
Aswanda mengaku sudah berulang kali pihaknya mendapat pesanan batik untuk souvenir kegiatan kepresidenan baik kunjungan ke Istana maupun kunjungan luar daerah.
Aswanda menceritakan pesanan pertama kepresidenan saat itu 15 ribu potong kain batik. Saat itu dirinya tidak menyangka salah satu pembelinya ternyata sekretariat kepresidenan.
"Dulu waktu pertama ada yang datang kayak orang biasa aja, pakai baju biasa. Ternyata sekretariat kepresidenan ya tidak menyangka, langsung pesan 15 ribu," kata Aswanda.
Dia mengaku pesanan paling banyak pernah diterimanya ketika sekretariat kepresidenan memesan batiknya dalam satu bulan sebanyak tiga kali. Sekali pesan bisa mencapai 10-15 ribu potong kain.
"Biasanya sekali pesan pihak Istana Negara minta dikirim 10.000 potong kain batik. Pernah paling banyak itu sebulan tiga kali," lanjut dia.
Aswanda mengaku pesanan batik dari Istana Negara setelah pandemi Covid-19 ini berkurang, mengingat pembatasan sejumlah kegiatan di luar daerah.
"Dulu sebelum Pandemi Corona selalu kirim ke istana hampir sebulan sekali kami selalu dapat pesanan, tapi sejak pandemi mulai berkurang," lanjut dia.
Batik tulis Windasari, dikatakan Aswanda mulai memproduksi 2000 usai Aswanda menikah. Aswanda mengaku usaha batiknya dulu sempat naik turun.
Dirinya bersama istri terus berusaha menjual batik dimana saja, bahkan dirinya sempat berhenti berjualan. Namun pada 2008 dirinya kembali bangkit dan bisa sesukses sekarang.
Aswanda mengaku batiknya dengan batik lainnya memang hampir sama, namun pihaknya saat ini terus mempertahankan pewarnaan alam.
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengakui bahwa memang banyak pejabat yang menyukai batik di Masaran, Sragen. Batik Sragen dinilai lebih halus.
"Batik Sragen selalu disukai para pejabat-pejabat, kami para pembatik -nya banyak walaupun dijualnya di luar Sragen tapi dibuatnya dari Sragen."
"Jadi kalau belanja langsung disini bisa tau tempat produksi, harga lebih terjangkau. Seperti kunjungan Bu Iriana beliau suka batiknya Sragen katanya lebih halus," katanya.
Yuni mengatakan, produksi batik di Sragen memang tidak masif seperti di Solo dimana setiap rumah ke rumah ada batik. Dirinya mengaku di Sragen hanya terpusat di beberapa desa saja. (*)