Berita Semarang

Tersangka Kasus Suap Yosep Parera Siap Perjuangkan Ketidakadilan Hukum di Persidangan

Tersangka kasus suap Yosep Parera mengirimi surat pribadi melalui kuasa hukumnya.

Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah
Ketua DPC Peradi Semarang Luhut Sagala (tengah) saat konferensi pers pemberian bantuan hukum kepada Yosep Parera dan Eko Suparno 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tersangka kasus suap Yosep Parera mengirimi surat pribadi melalui kuasa hukumnya Perhimpunan Advokat Indonesia-Suara Advokat Indonesia (Peradi-SAI) Semarang, Kamis (29/9/2022). 

Surat itu ditulis tangan oleh dirinya dalam dua lembar kertas HVS. 

Kepada awak media, kuasa hukum Yosep Parera, Luhut Sagala dari Peradi Semarang menyebut ada 9 poin yang disampaikan. 

"Surat ini ditulis tangan oleh Pak Yosep untuk disampaikan kepada publik," katanya. 

Diakui pendiri Rumah Pancasila melalui suratnya menyebut, Yosep berencana menyampaikan aspirasi masyarakat dalam penegakan hukum dan keadilan sosial. 

Sebab, kata Yosep dalam suratnya, sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan keadilan. 

Yosep dalam kesembilan isi suratnya menyebut:

Pertama, saya mengaku salah dan siap dihukum seberat-beratnya. 

Kedua, saya tidak kenal hakim Mahkamah Agung (MA) karena yang saya kenal hanya Desi. 

Ketiga, bahwa pembeleaan saya nanti di pengadilan bukan tentang saya. Tetapi tentang masyarakat yang susah dalam mendapatkan keadilan hukum dan penegakan sosial. 

Kelima, saat suara kecil di kota kecil tidak dapat membuka mata, telinga dan hati kita untuk Indonesia lebih baik maka mungkin saya diutus Tuhan untuk membukanya bilamana agar didengar presiden untuk melakukan pembenahan. 

Keenam, KPK tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dari masyarakat dan aparatur penegak hukum serta pemerintahan secara bersama dalam sebuah komitmen gentlemen agreemen yang disepakati secara tertulis. 

Keenam, menghukum orang dan saling mencaci di rumah Indonesia tidak akan membuat Indonesia menjadi lebih baik. Karena berdasarkan pengalaman saya, yang bersalah justru susah untuk tersentuh. 

Ketujuh, tunggu pembelaan saya di pengadilan tentang substansi hukum, sistem birokrasi dan budaya masyarakat yang saling mempengaruhi buruknya penegakan hukum dan keadilan sosial di Indonesia agar Indonesia menjadi lebih baik. 

Kedelapan, peristiwa ini bukan malapetaka bagi saya, tetapi berkat Tuhan untuk saya bisa bicara di kancah nasional. 

Kesembilan, terima kasih kepada KPK untuk ruang yang telah diberikan kepada saya. Ruang ini akan saya gunakan bukan untuk membela diri karena saya memang bersalah. Tetapi akan saya gunakan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dalam penegakan hukum dan keadilan sosial. 

Sebelumnya, Yosep Parera bersama rekan pengacaranya Eko Suparno terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ia bersama 10 orang lain ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap pengurusan perkara di MA. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved