Berita Semarang

Unika dan Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial Gandeng Off Takers untuk Pembentukan Unit Bisnis

Tim penerima hibah Matching Fund Kedai Reka Ditjen Dikti 2022l lakukan penelitian.

Penulis: amanda rizqyana | Editor: sujarwo
Dok. Humas Unika Soegijapranata Semarang
Tim penerima hibah Matching Fund Kedai Reka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti) 2022 dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang mengadakan kegiatan penelitian di Yogyakarta pada Jumat (23/9/2022) hingga Minggu (25/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tim penerima hibah Matching Fund Kedai Reka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti) 2022 dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang mengadakan kegiatan penelitian di Yogyakarta pada Jumat (23/9/2022) hingga Minggu (25/9/2022).

Penelitian ini berjudul 'Pengembangan Start-Up Perhutanan Sosial untuk Peningkatan Kapasitas dan Kesejahteraan Petani Perhutanan Sosial'.

Kegiatan pada tiga hari tersebut berfokus pada diskusi untuk pembentukan unit bisnis dan peningkatan kapasitas koperasi perhutanan sosial.

Kegiatan penelitian ini diketuai oleh B. Linggar Yekti Nugraheni, S.E., M.Com., Ph.D., C.A., memiliki latar belakang keilmuan akuntansi juga melibatkan peneliti dan mahasiswa dari disiplin ilmu manajemen, perpajakan, pengolahan pangan, ilmu komputer dan ilmu hukum, serta melibatkan mahasiswa dari kelima program studi tersebut.

Tim penerima hibah Matching Fund Kedai Reka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti) 2022 dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang mengadakan kegiatan penelitian di Yogyakarta pada Jumat (23/9/2022) hingga Minggu (25/9/2022).
Tim penerima hibah Matching Fund Kedai Reka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti) 2022 dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang mengadakan kegiatan penelitian di Yogyakarta pada Jumat (23/9/2022) hingga Minggu (25/9/2022). (Dok. Humas Unika Soegijapranata Semarang)

Disampaikan oleh Linggar, Ph.D., anggota tim peneliti yang terdiri dari  Dr. Agnes Advensia Chrismastuti, S.E., M.Ak., CPA.; R. Setiawan Aji Nugroho, S.T., M.Comp.IT., Ph.D.; Dr. Robertus Probo Yulianto Nugrahedi, S.TP., M.Sc.; Shresta Purnamasari, S.E.,M.Sc.; Christya Putranti, S.H., M.H., Apelina Theresia, S.E., M.Ak.; Stefani F. Dewi, S.E., M.Sc.

"Kegiatan dihadiri oleh dua perguruan tinggi, dua Kementerian, beberapa off takers, pegiat pertanian dan perhutanan, penyedia layanan pendanaan perbankan dan mitra penelitian, yakni Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial Indonesia atau Gema PS," terang Linggar, Ph.D., pada Tribun Jateng, Kamis (29/9/2022).

Perguruan tinggi yang hadir adalah Unika Soegijapranata dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian serta Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) dihadiri oleh oleh Pengawas Koperasi, Deputi Bidang Perkoperasian. 

Hadir pula Kementerian Pertanian (Kementan) mengutus tiga direktorat yakni Direktorat Jenderal Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, dan Direktorat Jenderal Buah dan Florikultura.

Pada kesempatan tersebut, beberapa off takers yang hadir dan akan membeli komoditas dari perhutanan sosial, antara lain PT. Fairventures Social Forestry, PT. Indika Multi Properti, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Obor Tani, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta, dan pendiri Bank Petani, Masril Koto.

"Dari penyedia layanan pendanaan, turut hadir juga jajaran manajemen Bank BNI kantor wilayah Jawa Tengah," tambah Linggar, Ph.D.

Ia juga menjelaskan bahwa diskusi pembentukan unit bisnis ini menjadi langkah penting agar petani perhutanan sosial dapat berkomunikasi dengan offtakers secara langsung sehingga dapat memutus rantai distribusi komoditas petani perhutanan sosial yang selama ini panjang dan rumit.

"Peneliti bersama dengan pihak yang hadir juga mengembangkan model unit bisnis yang mengedepankan peran koperasi dalam kegiatan usaha yang dilakukan oleh Gema PS," ungkap Linggar, Ph.D.,

Ia juga menjelaskan off takers memaparkan kebutuhan mereka, kemudian petani merespon kebutuhan tersebut dengan menawarkan komoditas yang bisa dijual kepada pihak offtakers.

Diskusi ditutup dengan kesepakatan bersama antar semua pihak yang hadir untuk mendukung usaha dan unit bisnis yang akan dikembangkan oleh GEMA PS.

Scara dibuka dengan sambutan dari Dewan Pembina Gerakan Masyarakat Perhutanan Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc., Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM sekaligus mitra kegiatan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Unika Soegijapranata Semarang.

Profesor Awang mengajak seluruh petani perhutanan sosial untuk menghidupkan roh koperasi dalam mengembangkan usaha dan unit bisnis perhutanan sosial.

Acara dilanjutkan dengan paparan dari masing-masing Direktorat Kementerian Pertanian dan Deputi Bidang Perkoperasian dan Kemenkop UKM dan paparan dari tim peneliti mengenai pentingnya tata kelola operasi dan keuangan, penguatan database dan dukungan teknologi dalam pengelolaan perhutanan sosial. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved