Fokus

Fokus : Tanggung Jawab

TRAGEDI menyesakkan hati yang terjadi Stadion Kanjuruhan, Malang, hampir sepekan berlalu. Kesedihan belum sepenuhnya hilang dari hati para pencinta bo

Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

TRAGEDI menyesakkan hati yang terjadi Stadion Kanjuruhan, Malang, hampir sepekan berlalu. Kesedihan belum sepenuhnya hilang dari hati para pencinta bola.

Sejauh ini, belum ada satu pun yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Pun halnya, belum ada pejabat berkait yang menyatakan mundur atau menyerahkan mandatnya, sebagai wujud rasa malu atas kejadian tersebut.

“Lo, Bung Valen Jebret wis mundur dari host dan komentator Liga 1 lo, Kang. Sampean gak ngetok-ngetokna,” tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Padahal, Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pascalaga Arema FC Malang versus Persebaya Surabaya, 1 Oktober 2022 lalu, benar-benar menggemparkan dunia. Jumlah korban tewas dalam kasus itu, memang sedemikian besarnya. Lebih dari 100 orang.

Memang, pada hari-hari pertama, jumlah korban simpang siur. Informasi pertama yang muncul, pada Minggu (2/10/2022) dini hari, jumlah korban tewas mencapai 127 orang.

Bahkan, pada Minggu (2/10/2022), sejumlah media melansir update korban tewas (versi Arema FC) dengan angka mencengangkan: 182 orang. Terakhir, pada Kamis (6/10/2022), Kapolri menyebut, jumlah korban tewas dalam Tragedi Kanjuruhan 131 orang.

Yang jelas, dengan jumlah korban tewas yang melebihi 100 jiwa, Tragedi Kanjuruhan tetap “bertengger” pada posisi dua tragedi paling mengerikan dalam dunia sepak bola.

Dalam soal jumlah korban tewas, Tragedi Kanjuruhan “hanya kalah” dari peristiwa di Stadion Nasional Lima, Peru, pada 24 Mei 1964. Lima puluh delapan tahun silam. Dalam insiden di tengah laga Peru versus Argentina itu jumlah korban tewas mencapai 328 orang.

Bahkan, Tragedi Kanjuruhan jauh lebih mengerikan dari Peristiwa Heysel 1985, yang hingga kini selalu dikenang. Tragedi Heysel, yang terjadi di Stadion Heysel, Brussel, Belgia, pada 29 Mei 1985, menelan “hanya” 39 korban tewas.

Saat itu, terjadi kerusuhan menjelang duel Juventus versus Liverpool dalam final European Cup (sekarang Liga Champions) 1985.

Kericuhan terjadi sekitar satu jam sebelum kick-off, ketika hooligans melemparkan flare, batu, dan botol melewati pembatas antara wilayah pendukung Liverpool dan Juventus, yang kemudian berlanjut dengan bentrok.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya, pada hari keenam pascatragedi itu, Polri menetapkan enam tersangka dalam kasus, yang menjadi sorotan dunia tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved