Jumat, 1 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

FOKUS

FOKUS : Jangan Cuma Lobi FIFA

Kecepatan pemerintah Indonesia dalam melobi organisasi sepakbola dunia Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) layak diacungi jempol.

Tayang:
Penulis: Erwin Ardian | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG
Erwin Ardian Pemred Tribun Jateng 

Oleh Erwin Ardian

Wartawan Tribun Jateng

Kecepatan pemerintah Indonesia dalam melobi organisasi sepakbola dunia Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) layak diacungi jempol.

Tak lama setelah tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan Malang yang kini menewaskan 133 orang, Presiden RI Joko Widodo segera melobi Presiden FIFA Gianni Infantino.

Hasil lobi tingkat tinggi itu sepertinya lumayan berhasil. Kekhawatiran akan jatuh sanksi berat dari FIFA mulai mereda, saat FIFA memastikan Kejuaraan Dunia Sepakbola U20 tetap akan digelar di Indonesia tahun depan.

Tak hanya itu, Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan langsung datang ke Indonesia bertemu langsung Presiden Jokowi untuk membahas masa depan sepakbola Indonesia.

Selain bertemu Jokowi, Gianni Infantino juga bertemu Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan dan jajaran pengurus PSSI di Kantor PSSI, GBK Arena, Selasa (18/10/2022) sekitar pukul 15.10 WIB.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Vivin Cahyani yang berbicara kepada wartawan menjelaskan, pertemuan berlangsung dalam suasana yang sangat emosional.

Masih dalam suasana duka yang mendalam akibat tragedi Kanjuruhan, menurut Vivin, sejak 1930 PSSI berdiri, baru sekali ini Presiden FIFA datang ke Indonesia dalam suasana yang sangat memilukan.

Menurut catatan, Presiden FIFA kala itu Sepp Blatter pernah datang ke Indonesia untuk menghadiri final Piala Asia 2007 yang mempertemukan Iraq melawan Arab Saudi di Jakarta. Sayangnya kedatangan Presiden FIFA kali ini sangat berbeda.

Dari data sejarah sepakbola dunia, tewasnya 133 orang akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang saat Arema Malang bertemu Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022 adalah kejadian paling mematikan nomor dua. Tragedi paling parah adalah pada 24 Mei 1964 di Estadio Nacional Disaster, Lima, Peru yang menewaskan 328 orang.

Namun meski kejadiannya mendunia, penanganan hukum pasca-Tragedi Kanjuruhan sepertinya masih dalam tahap biasa-biasa saja.

Belum ada langkah signifikan terkait para tersangka dan pihak-pihak yang terkait erat dengan tragedi Kanjuruhan.

Pemerintah dan PSSI juga belum juga melakukan langkah besar untuk mengubah tata kelola persepakbolaan di negeri ini agar peristiwa mengerikan seperti Kanjuruhan tak terulang lagi.

Makin miris ketika yang muncul justru kelegaan karena Indonesia masih bisa menggelar sepakbola.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved