KAHMI Harus Kembali ke Jatidiri, Jadilah Solusi untuk Umat dan Bangsa

Peneliti senior BRIN, Prof. DR. Siti Zuhro MA, akan mengisi diskusi bertema: “Perjuangan Mewujudkan KAHMI sebagai Solusi Bangsa”.

Editor: rustam aji
dok.KAHMI JATENG
BERBINCANG AKRAB - Peneliti senior BRIN, Prof. DR. Siti Zuhro MA (dua dari kanan) telah tiba di Semarang untuk mengisi diskusi bertema: “Perjuangan Mewujudkan KAHMI sebagai Solusi Bangsa”, dalam pelantikan Pengurus MW KAHMI Jateng di Hotel Pandanaran Semarang, Sabtu (22/10/2022). Kedatangan Prof. Siti Zuhroh disambut Koordinator Presidium KAHMI Jateng, Dr. dr. Masrifan Djamil, MPH., MMR (paling kiri). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Majelis Wilayah Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Tengah punya gawe besar. Ya, karena kepengurusan MW KAHMI Jateng 2022-2027 pada Sabtu (22/10/2022) akan dikukuhkan. Pelantikan rencananya dilakukan pukul 09.00 WIB di Hotel Pandanaran Jl. Pandanaran No. 58 Semarang.

Ketua panitia pelantikan MW KAHMI Jateng, Sapto Widodo, menyampaikan sejumlah pejabat penting di Jawa Tengah, mulai dari Forkompimda Jateng (Gubernur, Kapolda, Pangdam IV Diponegoro, Kejati, Ketua DPRD Jateng) diundang, termasuk sejumlah ketua organisasi kemasyarakatan (Ormas) besar di Jawa Tengah seperti Muhammadiyah, NU, Al-Irsyad, dll juga turut diundang.

“Mereka sudah kita kasih undangan, dan semoga bisa menghadiri acara,” kata Sapto, Jumat (21/10/2022).

Di sela pelantikan, nantinya juga akan ada diskusi yang akan diisi peneliti senior BRIN, Prof. DR. Siti Zuhro MA, dengan tema: “Perjuangan Mewujudkan KAHMI sebagai Solusi Bangsa”.

Sementara itu, Koordinator Presidium MW KAHMI, Dr. dr. Masrifan Djamil, MPH., MMR, mengungkapkan harapannya untuk pengurus MW KAHMI Jateng periode 2022-2027. Pelantikan ini momentum dahsyat, 101 pengurus (3 majelis terdiri dari 29 orang), 72 orang Pengurus Pleno dengan title Guru Besar, Doktor, S2, S1 dan para otodidak yang sangat komplit varisasinya.

 “ Ini momentum untuk konsolidasi organisasi, mawasdiri, meningkatkan yang sudah baik, dan KAHMI bergerak terus untuk membina ‘sumber mata air perkaderan’ (HMI) dan berperan untuk umat serta bangsa, khususnya di Jateng,” jelasnya, Jumat (21/10/2022).

Di era digitalisasi saat ini, dr. Masrifan berharap KAHMI Jateng dengan tanpa meninggalkan visi ke-Islaman dan Keindonesiaan, juga mampu membuat Vital Sign, seperti digitalisasi keanggotaan KAHMI. “Minimal ini bisa dimulai dari Majelis Daerah (MD) KAHMI yang banyak generasi milenialnya. Program aplikasi e-sekretariat bisa diterapkan,” ungkapnya.

Menurutnya, KAHMI Jateng punya majelis yang satu-satunya di Indonesia, yakni Majelis Penguatan Keislaman dan Keindonesiaan. “ Kita ingin Jateng memelopori gerakan ini, KAHMI harus menemukan kembali jati dirinya disitu. Karena KAHMI bukan ormas biasa, dia kelanjutan organisasi kader,” tandasnya.

Tetap Kritis

Dr. dr. Masrifan Djamil, MPH., MMR mengingatkan, posisi Kahmi dalam gerakan dakwah ummat masih kecil bila dibandingkan dengan NU dan Muhammadiyah.

“Sumberdaya terbatas, maka KAHMI kolaborasi atau membaur memperkuat ormas dengan daya intelektualitasnya yang telah dikenal sejak HMI. Kritis, kreatif, berani karena benar, bukan berani karena dibayar. KAHMI berdakwah selain metode itu (kolaborasi dan menginternalisasi ke ormas apapun) juga mengambil peluang utk kita gerakkan dakwah di dunia digital,” pesannya.

Adapun memasuki tahun politik Pilpres 2024, kata dr. Masrifan, sikap dan peran Kahmi Jateng, maupun Kahmi nasional, tidak berpolitik praktis, tetapi sebagai bagian dari elemen bangsa peduli dan konsern masalah itu. KAHMI, baik Jateng atau Nasionan akan melahirkan pikiran cerdas, di antaranya menghentikan budaya busuk politik uang. Karena politik uang destruktifnya dahsyat,” tandasnya.

"Ada pihak yang saling menutupi, melindungi agar kebusukan dalam pemilu itu jalan terus, demi memanfaatkan kelemahan sebagian rakyat itu untuk ambil kekuasaan dengan tujuan jahat," imbuhnya.

Menurutnya, KAHMI berpandangan Pemilu dan segala derivatnya (PILKADA, PILEG, PILPRES) itu peristiwa serius sekali, mendasar, salah pilih akibatnya bukan 5 tahun, mungkin 50 tahun. Karena itu, KAHMI tidak akan mendukung calon, tetapi kader KAHMI silakan memilih dengan keahliannya yang teruji sejak HMI.

“Kalau KAHMI sampai milih karena uang, pasti KAHMI KW-KW,” ungkapnya.

Terkait dengan kader HMI, dr. Masrifan berpesan agar kader HMI memiliki kecerdasan dan DNA HMI yang asli, yang cinta Indonesia (nasionalis) sekaligus mempunyai bobot keislaman yang mantap. Maka HMI pasti cakap dalam memilih pemimpin yang akan membawa Indonesia ke arah masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT.

“Adik-adik HMI harus rajin diskusi dan jangan cengeng. Jadilah kader yang solutif untuk bangsa dan agama. Jangan manja, dan selalulah jadi perekat umat,” pesannya. (rilis/aji)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved