Berita Viral

5 Bulan Bak Neraka Dunia Bagi ART Cianjur yang Disiksa Secara Biadab, Pelaku Ternyata Oknum ASN

Ia disikasa hingga telinga berdarah dan bernanah, mata kabur minus empat karena disiram bubuk cabai

Editor: muslimah
Istimewa / Dokumen Keluarga
RN (18) ART asal Cianjur yang menjalani perawatan di RSPAD akibat mendapatkan kekerasan majikannya. 

TRIBUNJATENG.COM, DUREN SAWIT - Saat bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Jakarta, nasib RN (18) sungguh pahit.

Ia disikasa hingga telinga berdarah dan bernanah, mata kabur minus empat karena disiram bubuk cabai.

Badan penuh luka dan depresi.

Gaji pun tak dibayar penuh.

Baca juga: Setelah Disiksa, RN Ditelanjangi Majikan Lalu Direkam, Kisah Pilunya Mengundang Perhatian Istana

Baca juga: Kronologi Kakek Kaan Playboy Majalangka Menikah 87 Kali, Berawal Sakit Hati, Perdalam Ilmu Spiritual

Koalisi Sipil Undang Undang Perlindungan Pembantu Rumah Tangga (PRT) berharap pelaku penyiksaan PRT berinisial RN (18) asal Cianjur, Jawa Barat dijerat pasal berlapis.

Hal ini menyusul penanganan kasus penganiayaan yang dialami RN selama ada di rumah majikannya di Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur yang ditangani Polda Metro Jaya.

Koordinator Koalisi Sipil Undang Undang Perlindungan PRT, Eva Kusuma Sundari mengatakan pelaku yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu telah melakukan serangkaian tindak pidana.

Pasalnya akibat perbuatan pelaku yang merupakan pasangan suami istri (Pasutri) tersebut RNA mengalami luka berat dan hingga kini harus menjalani rawat jalan serta trauma berat.

"Banyak banget. UU Perlindungan Anak. UU PKDRT (penghapusan kekerasan dalam rumah tangga), penganiayaan, human trafficking TPPO," kata Eva saat dikonfirmasi di Jakarta Timur, Jumat (28/10/2022).

Jerat pasal perlindungan anak tersebut karena ketika penyiksaan berlangsung pada bulan Juni hingga akhir Oktober 2022 lalu RNA masih berusia 17 tahun, atau secara hukum berstatus anak.

Sementara tindak pidana perdagangan orang (TPPO) karena penyalur kerja yang menyalurkan RNA kepada majikannya tidak resmi, pertemuan korban pun berlangsung di mall.

"Kepala desanya (RNA tinggal) bingung ada warganya pergi enggak tahu ke mana.

Sampai R pulang baru ketahuan semua badannya rusak (mengalami luka penganiayaan)," ujarnya.

Soal pasal penganiayaan karena Pasutri majikan RNA melakukan kekerasan fisik secara bergantian sehingga mengalami banyak luka.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved