Fokus

Fokus: Nestapa Bencana

BANJIR melanda Kelurahan Mangkang Wetan dan Kelurahan Tambak Aji di Kota Semarang. Air bah dari tanggul yang jebol membuat sejumlah rumah rusak dan be

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: m nur huda
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Abduh Imanulhaq atau Aim wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Abduh Immanulhaq

TRIBUNJATENG.COM - BANJIR melanda Kelurahan Mangkang Wetan dan Kelurahan Tambak Aji di Kota Semarang. Air bah dari tanggul yang jebol membuat sejumlah rumah rusak dan beberapa mobil hanyut.

Masih di Kota Semarang, tanah longsor terjadi di Kelurahan Sekaran dan Kelurahan Jatibarang. Bahkan di tanjakan Jatibarang, material longsoran sampai menutup jalan

Pada musim hujan, sejumlah bencana hidrometeorologi biasa terjadi di Jawa Tengah. Tak hanya banjir dan longsor, belakangan ini yang mencolok juga puting beliung atau hujan angin.

Di Kabupaten Pekalongan, puting beliung menerjang Kecamatan Kajen dan Kecamatan Karanganyar. Puluhan bangunan rusak. pohon-pohon dan tiang listrik bertumbangan.

Kita tahu, bencana hidrometerologi adalah bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Selain banjir dan puting beliung serta longsor, ada pula rob dan gelombang tinggi.

Kita jelas berharap bencana ini tak membuat nestapa lagi. Sehingga tak ada warga yang kehilangan harta benda atau harus mengungsi meninggalkan rumah.

Di Jawa Tengah, ada beberapa daerah yang paling rentan terjadi bencana hidrometeorologi. Kita bisa melihatnya dari sejumlah sumber resmi, di antaranya Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah dari Pusat Vulkanologi.

Ada Batang, Temanggung, dan Wonosobo yang sebagian daerahnya tergambar masuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi. Beberapa daerah lain juga terancam bahaya tanah longsor.

Beberapa daerah tercatat paling rentan mengalami banjir karena dilalui sungai besar, di antaranya Banyumas, Pati, Demak, Kudus, Brebes, dan Cilacap. Kemudian daerah rawan karena keberadaan anak sungai besar seperti Karanganyar, Solo, dan Sukoharjo.

Meski data sudah ada, bencana ini tetap tak terhindarkan. Dari sudut ini, kita bisa menilai betapa pentingnya manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana yang paripurna. Dimulai dari pengelolaan risiko, tanggap darurat hingga pemulihan.

Terlebih kita tahu, Indonesia memang tak banyak bisa mengelak dari berbagai risiko bencana alam. Posisi geografis negeri kita terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Tak kurang dari lembaga milik PBB yang fokus pada pengurangan risiko bencana, UN-ISDR, menyatakan Indonesia sebagai negara paling rawan terhadap bencana di dunia. Kita menempati peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi.

Kemudian peringkat tiga untuk ancaman gempa. Selanjutnya posisi keenam untuk banjir. Mengingat predikat tersebut, wajib kiranya kita memiliki manajemen bencana yang mumpuni.

Sebagai negara yang rawan bencana, sejak dulu masyarakat kita pun memiliki kearifan lokal dalam mengenalinya. Berbagai pertanda alam di sekitar sungai biasanya menunjukkan proses banjir yang akan terjadi.

Lebih sering ditandai hujan deras yang berlangsung lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menggolongkannya sebagai hujan berintensitas sedang, tinggi, sangat tinggi, dan ekstrem.

Mengingat cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi berupa banjir, longsor, dan puting beliung selalu mengintai. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana mutlak harus selalu waspada terutama saat hujan turun terus-menerus. (*/tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved