Berita Magelang

Biksu dari Berbagai Negara Kelilingi Candi Borobudur, Bersyukur Dijadikan Tempat Ibadah

Para biksu dan umat Buddha dari berbagai negara peserta konferensi internasional di Borobudur menyelenggarakan "santutthicitta" Borobudur, Minggu (20/

Editor: m nur huda
P RADITYA MAHENDRA YASA
Tri Suci Waisak-Biksu berjalan di antara stupa candi saat menjalankan prosesi pradaksina di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (6/5). 

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Para biksu dan umat Buddha dari berbagai negara peserta konferensi internasional di Borobudur menyelenggarakan "santutthicitta" Borobudur, Minggu (20/11).

Hal itu merupakan wujud syukur umat Buddha atas pencanangan Candi Borobudur sebagai tempat peribadatan.

Kegiatan yang berlangsung di kompleks candi Buddha terbesar di dunia itu diawali dengan doa bersama para biksu di puncak Candi Borobudur.

Bersamaan dengan itu umat Buddha melakukan pradaksina dengan berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Setelah itu dilanjutkan doa bersama para biksu dan umat Buddha di pelataran Candi Borobudur.

Ketua Konferensi Internasional di Borobudur Biksu Ditthisampanno menyampaikan, kegiatan kemarin bertajuk santutthicitta atau peziarahan.

Hanya saja, kegiatan kemarin mengambil momentum khusus, yaitu sesuai arahan Presiden Jokowi tentang Borobudur sebagai destinasi pariwisata super prioritas.

Selain itu, katanya, Menteri Agama juga mengarahkan Borobudur sebagai salah satu pusat wisata religi untuk umat Buddha dunia.

"Maka kami mendukung ini dengan mengundang para biksu dari seluruh dunia untuk mengadakan doa bersama dan melakukan pesakralan di puncak Borobudur. Harapannya dari sisi keyakinan umat Buddha akan bertambah," ujar dia, kemarin.

Ia menyampaikan para biksu dari Thailand, Myanmar, Srilanka, Laos, Kamboja, India, dan Vietnam membacakan doa-doa suci, mantra, sutra, dan juga parita-parita serta dirangkai dengan kegiatan meditasi di puncak Borobudur.

"Ini sebagai rasa syukur kami sebagai umat Buddha bahwa pemerintah Indonesia mendukung bahkan memberikan dorongan bagi kami untuk membantu pemerintah dengan kami mendatangkan para wisatawan khususnya wisatawan dari agama Buddha," lanjutnya.

Ia berharap dengan banyaknya wisata religi itu akan menjadikan suasana yang lebih baik dan lebih kondusif.

Ditthisampanno menambahkan, selama ini upacara keagamaan yang diselenggarakan di Borobudur hanya Waisak dan Asada.

Dengan ditetapkannya Borobudur sebagai pusat ibadah agama Buddha Indonesia dan dunia, nanti upacara yang dilaksanakan di Borobudur selain Waisak juga ada katina, magapuja dan lainnya.

"Jadi intinya pemerintah memberi ruang dan akan kami manfaatkan sebaik-baiknya sebagai atraksi wisata. Dengan adanya banyak kegiatan itu banyak wisatawan yang datang ke sini. Saya kira akan menambah devisa bagi pariwisata Indonesia," jelas dia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved