Hari Guru Nasional

Momen Hari Guru, Masih Banyak Guru di Sragen yang Terombang-ambing

Memperingati hari guru, masih banyak guru yang nasibnya terombang-ambing.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mahfira Putri Maulani
Sejumlah guru honorer di Sragen ketika berdialog dengan anggota DPRD Sragen belum lama ini. 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Memperingati hari guru, masih banyak guru yang nasibnya terombang-ambing.

Banyak guru yang kesejahteraannya belum ada kepastian, dari pemerintah.

Bahkan pada momentum ini, salah seorang guru honorer di Sragen menuliskan surat terbuka yang ditujukan para Menteri Pendidikan dan Kebudayan, Riset dan Teknologi RI Nadiem Makariem.

Pengiriman surat itu buntut dari 50 tenaga honorer di Sragen yang lolos passing grade dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) namun bekuk diangkat PPPK.

Kondisi ini diperparah karena adanya peringkat passing grade yang rendah justru sudah diangkat menjadi PPPK, sedangkan peringkat diatasnya belum diangkat.

Lis Wiji Harsiwi guru prakarya di SMP Negeri 2 Masaran, Sragen salah satunya. Lis sapaan akrabnya itu mengaku berada diperingkat kelima perangkingan dalam seleksi PPPK di Sragen beberapa waktu lalu.

Namun ada seorang guru yang berada di peringkat ke-19 sudah penempatan dan diangkat PPPK, namun dirinya belum. Atas dasar itu dirinya melayangkan surat ke Nadiem.


"Peringkat 1-4 sudah mendapatkan penempatan, tapi peringkat paling bawah yakni 19 justru mendapatkan penempatan. Kenapa saya yang rangking 5 justru belum mendapat penempatan, saya menuntut keadilan," ujarnya kepada Tribunjateng.com.

Belum lama ini, dirinya bersama tenaga honorer lainnya  sudah mengadukan permasalahan ini ke DPRD Sragen dan belum ada hasil.

Sementara pada helpdesk Kemendikbud Ristek, Lis juga telah mengadu terkait hal ini. Disana menerangkan penempatan atau pengangkatan PPPK disesuaikan peringkat pada tes PPPK.

Lis melanjutkan juga ada sejumlah kemungkinan dirinya bakal mendapatkan penempatan pada 2022 ini. Atau dia dan guru yang rangking bawah sama-sama tidak mendapatkan penempatan.

Lis menyampaikan ada 15 orang yang belum mendepatkan penempatan dari sekolah negeri. Sedangkan dari sekolah swasta ada 7 orang. Pada 2022 ini hanya 5 formasi untuk mapel Prakarya.

"Saya melayangkan surat terbuka pada kemendikbud, katanya urutan perengkingan, tapi anehnya yang bawah dapat penempatan,"ujar dia.

DIa menyampakan sudah sejak 2008 menjadi guru Wiyata Bakti (WB). Kondisi ini menurutnya memilukan, karena yang lain tinggal tunggu NIP pada Februari. Sementara pihaknya masih dijanjikan tahun depan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved