Berita Kudus

Djarum Olah Sampah Organik di Kudus dalam Sehari 50 Ton

Potensi sampah organik di Kabupaten Kudus dalam sehari bisa mencapai sekitar 400 ton. Sebagian di antaranya telah berhasil diolah menjadi pupuk organi

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Istimewa
Aktivitas pengolahan sampah organik di pusat pengolahan sampah di Djarum Oasis Kudus. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Potensi sampah organik di Kabupaten Kudus dalam sehari bisa mencapai sekitar 400 ton. Sebagian di antaranya telah berhasil diolah menjadi pupuk organik.

Hanya saja pengolahan sampah organik di Kudus hingga menjadi pupuk kompos dilakukan oleh pihak swasta, yaitu Djarum Foundation.

Dalam sehari ada sekitar 50 ton sampah organik yang diolah di sana. Pusat pengolahan sampah itu berada di kompleks Djarum Oasis.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus, Abdul Halil, menyambut baik apa yang dilakukan Djarum sebagai pihak swasta yang bersedia mengelola sampah organik.

Sebab saat ini memang sampah masih menjadi masalah pelik, ditambah luasan tempat pembuangan akhir sampah yang tidak lagi mampu menampung.

"Pertama memang masyarakat harus bisa memilah sampah, agar yang dibuang ke TPA itu residu yang sudah tidak bisa diolah," kata Halil, Rabu (30/11/2022).

Selain itu, lanjut dia, gudang pemilah yang ada di TPA Tanjungrejo bis kembali difungsikan untuk memilah sampah. Dengan begitu, setidaknya sampah yang masih bisa diolah akan dimanfaatkan.

Sedianya pemerintah memiliki pusat pengolahan sampah organik yang berada di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Pusat pengolahan sampah yang dibangun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, kata Halil, memang belum maksimal dalam pengoperasiannya.


Public Affairs Djarum Foundation, Amrul Hamzah, mengatakan dari sistem informasi pemerintah menunjukkan potensi sampah organik di Kabupaten Kudus dalam sehari ada sekitar 400 ton. Sementara yang berhasil pihaknya olah sehari maksimal mencapai 50 ton.

"Itu artinya yang kami olah sehari 12 persen dari total sampah yang ada," kata Amrul.

Sampah yang diolah pihaknya, kata Amrul, merupakan sampah organik dari mitra yang bersedia menyetor sampah organik. Saat ini sudah ada 206 mitra, mulai dari sekolah, pesantren, sampai restoran.

"Kami mengelola sampah organik ini sejak 2018, setiap tahun mitra kami selalu bertambah," katanya.

Sampah organik yang tiba di pusat pengelolaan sampah milik Djarum itu kemudian digiling. Lantas sampah gilingan itu dicampur bakteri untuk kemudian ditimbun sampai menjadi pupuk kompos.

"Dari sampah sampai menjadi pupuk organik ini membutuhkan waktu sampai 6 bulan," katanya.

Pupuk hasil olahan tersebut, kata Amrul, kembali dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkannya. Selain itu, pihaknya juga menggunakan pupuk tersebut untuk program penghijauan di beberapa wilayah di Indonesia.

"Kalau ada warga yang mengajukan permohonan bibit tanaman, kami juga beri pupuknya ini," kata dia.(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved