Berita Ungaran

Fenomena Mobil Pikap Jadi Angkutan Orang di Kabupaten Semarang, Masih Ada tapi Kian Tergerus

Mobil pikap atau bak terbuka berpenumpang orang kini mulai jarang terlihat.

Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV
Para penumpang menaiki angkutan mobil pikap di Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa (29/11/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KABUPATEN SEMARANG - Mobil pikap atau bak terbuka berpenumpang orang yang menjadi angkutan umum masih sering dijumpai di beberapa daerah pada dua dekade ke belakang. Namun, angkutan itu kini sepertinya sudah mulai jarang terlihat dan perlahan tergerus.

Berdasarkan penelusuran Tribunjateng.com di Kabupaten Semarang, masih didapati sejumlah daerah di mana warganya masih memanfaatkan dan mengoperasikan angkutan umum mobil pikap tersebut pada Selasa (29/11/2022).

Biasanya, angkutan umum mobil pikap masih bisa ditemukan di daerah pedesaan, atau wilayah dengan pemasok hasil pertanian dan sekitar pasar-pasar tradisional.

Dua di antara wilayah yang ditemukan masih terdapat angkutan itu yakni Kecamatan Sumowono dan Kecamatan Banyubiru.

Di Kecamatan Sumowono, Tribunjateng.com menemui satu di antara sopir mobil pikap yang masih setia mengangkut penumpang, namun mulai beralih ke pengangkutan sayur dagangan.

Para penumpang menaiki angkutan mobil pikap di Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa (29/11/2022).
Para penumpang menaiki angkutan mobil pikap di Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa (29/11/2022). (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV)

“Kalau beberapa tahun lalu, atau sekitar tahun 2000-an, masih banyak penumpang.
Saya masih pakai Colt TS, sekali antar bisa sampai 10 penumpang, kalau sekarang sekitar empat sampai lima orang saja,” ujar Heri Sanjaya, Dusun Watu Gandu, Desa Jubelan.

Heri mengaku masih mengangkut penumpang lantaran banyak tetangganya, baik pedagang maupun pembeli di Pasar Sumowono yang membutuhkannya.

Mobil pikap Carry yang kini dia pakai, dia modifikasi dengan menambahkan sejumlah papan kayu di baknya sebagai tempat duduk.

Heri juga memberi atap dari seng serta tiang besi untuk pengaman samping kiri kanan bak mobilnya.

Menurut Heri, berkurangnya para penumpang pikap lantaran warga di daerahnya yang mulai memiliki kendaraan pribadi, seiring dengan mudahnya proses kredit kendaraan bermotor.

“Sekarang mau beli motor mudah, uang muka nol saja bisa langsung punya motor. Mobil juga, uang muka yang kecil juga membuat orang jadi banyak beli,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Heri tetap ingin mengoperasikan angkutannya serta aktif mengangkut sayuran dagangan pasar.

Di tempat lain, ditemui juga warga, khususnya pedagang Pasar Ambarawa yang bertempat tinggal di Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru melakukan mobilitasnya dengan memanfaatkan angkutan mobil pikap.

Para penumpang menaiki angkutan mobil pikap di Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa (29/11/2022).
Para penumpang menaiki angkutan mobil pikap di Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa (29/11/2022). (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV)

Seorang penumpang, Parminah, mengaku membayar Rp 5.000 untuk perjalanan dari Pasar Ambarawa menuju Desa Tegaron.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved