Fokus

Fokus: Setajam Curiga

KOCAP kacarita, Laksmana sudah berusaha keras untuk menjaga Sinta, dari segala marabahaya yang mengancam di tengah Hutan Dandaka. Dia melakukan itu de

Penulis: achiar m permana | Editor: m nur huda
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Achiar M Permana

TRIBUNJATENG.COM - KOCAP kacarita, Laksmana sudah berusaha keras untuk menjaga Sinta, dari segala marabahaya yang mengancam di tengah Hutan Dandaka. Dia melakukan itu dengan tulus, semata karena mematuhi dhawuh kakak yang amat dihormatinya: Rama.

Namun, tanggapan yang dia terima dari Sinta sungguh di luar dugaan. Sinta menuduhnya menyimpan maksud buruk. Sinta menuding, sesungguhnya Laksmana bersikukuh tetap berada di hutan itu, bukan untuk menjaganya, melainkan karena ingin melakukan niat buruk terhadapnya.

Begitulah, wiracarita Ramayana berkisah. Singkat cerita, Laksmana pun terpaksa meninggalkan Sinta sendirian di tengah hutan. Dari situ, petaka penculikan Sinta oleh Rahwana bermula.

Begitulah, tidak setiap niat baik akan bersambut respons yang baik pula. Pepatah lama mengatakan, air susu dibalas dengan air tuba. Tidak jarang, maksud baik justru mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan. Bahkan bisa jadi, dari orang yang ditolong.

Cerita terbaru datang dari Cianjur. Cerita yang tidak menyenangkan, tentang tanggapan negative terhadap pemberi bantuan.

Gempa berkekuatan magnitude (M) 5,6, yang mengguncang Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022), bukan hanya data tentang jumlah korban. Bukan hanya tentang jumlah korban tewas, yang hingga Selasa (29/11/2022), telah mencapai 327 orang. Kisah gempa juga tentang cerita keajaiban korban selamat, anak-anak yang kehilangan keceriaan di pengungsian, dan orang-orang yang terketuk untuk mengulurkan tangan.

Pada Senin (28/11/2022) malam, tepat 45 menit menjelang tengah malam, saya menerima pesan WA dari seorang kawan, tentang “Terima Kasih, Cianjur”. Esoknya, pesan yang terunggah di akun Instagram idn.grassroots itu menjadi viral. Unggahan itu merupakan pernyataan pamitan relawan dari membantu korban gempa Cianjur.

"Dengan sangat menyesal kami tarik mundur...," tulis idn.grassroots.

Unggahan tersebut mengungkapkan, perlakuan yang dialami tim relawan di Cianjur, antara lain banyak pungutan liar (pungli) di beberapa titik jalan yang dilalui kendaraan relawan. Yang lebih menyedihkan, adanya tindakan intoleran terhadap beberapa rekan dengan dalih agama. "Kami datang tanpa simbol dan atribut. Jika hanya perbedaan warna kulit dan keyakinan menjadi pembatas, maka tidak ada jalan bagi kami untuk pulang dan rehat," tulis akun tersebut.

Tindakan intoleran yang terjadi, berupa pencopotan label pemberi bantuan 'Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injili Indonesia” yang menempel pada tenda untuk warga. Belakangan, polisi mengambil langkah cepat. Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Suntana menyatakan, polisi telah memeriksa terduga pelaku pelepas identitas gereja, pada posko tenda bantuan korban gempa di Cianjur.

Tak kurang, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pun menyesalkan sikap intoleran segelintir warga di pengungsian korban gempa Cianjur. Dia memastikan aksi tak terpuji di tenda pengungsian korban gempa Cianjur tak terulang lagi.

“(Pertama) Bencana ini datang tidak pilih-pilih dan pastinya mendampaki semua orang, semua pihak dan semua golongan di Cianjur tercinta ini. (Kedua) Yang membantu bencana pun datang tidak pilih-pilih, datang dari semua pihak, dari semua golongan, kelompok, apa pun keyakinan atau agamanya,” Ridwan Kamil, dalam unggahan Instagramnya.

Persoalan intoleransi memang belum benar-benar tertuntaskan. Dalam kasus gempa Cianjur, intoleransi yang bermula dari kecurigaan akan adanya misi terselubung pemberi bantuan. Memang benar, rasa curiga sesungguhnya serupa dengan curiga, sebutan lain untuk keris bagi orang Jawa. Bisa sama tajamnya.

Memang menyedihkan, Hari Toleransi Internasional atau International Day of Tolerance, 16 November, belum lama berlalu. Namun, nyatanya persoalan intoleransi masih menjadi ancaman nyata di sekitar kita. Bahkan, di lokasi bencana.

“Kok isa ya, Kang?” kali ini Dawir, sedulur batin saya, pendek saja. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved