Berita Jateng

Kawasan Bedono Sayung dan 3 Tempat Lainnya di Jateng Jadi Sasaran Proyek Konservasi Berkonsep NBS

Kawasan Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak yang terdampak abrasi menjadi sasaran untuk dilakukan konservasi.

Editor: rival al manaf
Istimewa
(kiri ke kanan )Perwakilan IBL, Reg CEO Bank Mandiri Region VII/Jawa 2 Hendra Wahyudi, Bupati Demak Eisti'anah, Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Rohan Hafas, Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Ignatius Susatyo Wijoyo, Group Head Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Atthurida sedang menunjukkan bibit pohon mangrove di Desa Bedono, Demak, Jawa Tengah, Senin (28/11). 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Kawasan Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak yang terdampak abrasi menjadi sasaran untuk dilakukan konservasi.

Konservasi lahan yang memanfaatkan konsep Nature-Based Solution (NBS) serta didukung pendekatan kolaborasi Pentahelix dengan melibatkan pemangku kepentingan dilaksanakan di lokasi tersebut.

Upaya itu dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup,dan mendorong pendekatan ekonomi hijau untuk menangkap potensi perkembangan bisnis ke depan.

Baca juga: Belanda dan Senegal Lolos, Berikut Hasil Lengkap dan Klasemen Akhir Grup A Piala Dunia

Baca juga: Polres Demak Berikan Bantuan Sosial Kepada Korban Gempa Cianjur

Baca juga: Lilik Ngesti: Pengembangan dan Pelestarian Budaya Desa Melalui Satgas Adat Istiadat 

Kegiatan itu diinsiasi oleh pemerintah, swasta, hingga akademisi di bidang lingkungan.

Dari sektor swasta, Bank Mandiri menjadi motor gerakan konservasi ini di dukung Pemerintah Kabupaten Demak dan akademisi dari UGM.

Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, Bank Mandiri melaksanakan konservasi awal berkonsep NBS ini di Desa Bedono, Kecamatan Sayung Demak serta tiga titik lokasi lain yang kedepannya akan diperluas secara bertahap ke berbagai titik di Indonesia hingga mencapai 500 Ha.

“Program yang dilaksanakan Bank Mandiri ini selaras dengan sustainability commitment perseroan untuk menjadi Indonesia’s Sustainability Champion for Better Future, dimana salah satu targetnya adalah mencapai Net Zero Emission (NZE) operasional pada 2030,” ujar Rohan dalam keterangan tertulisnya.

Revitalisasi berkelanjutan diperkenalkan dengan metode inovatif dan praktik terbaik dimana Bank Mandiri melibatkan kolaborasi pentahelix yaitu Pemerintah Setempat, Dinas Lingkungan Hidup, Kelompok Tani serta akademisi atau praktisi Lingkungan.

Pihaknya juga mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif warga sekitar termasuk menyediakan pembiayaan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi inklusif dan kemandirian masyarakat.

“Melalui program ini, kami juga akan mengembangkan desa ekowisata serta pertumbuhan ekonomi inklusif melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada Petambak Kerang, expedisi truk angkut, sewa perahu, nelayan ikan laut, pemilik penyewaan perahu hingga toko kelontong. Langkah ini juga kami barengi dengan upaya digitalisasi transaksi di daerah melalui pemasangan QR Code Indonesian Standard (QRIS) pada sejumlah warung di lokasi konservasi,” terang Rohan.

Dalam rangka pemberdayaan desa ekowisata, di area ini kami menginvestasikan spot foto yang instagrammable serta mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif warga sekitar atas olahan Mangrove seperti keripik Mangrove, kopi Mangrove, Dodol dan sirop Mangrove.

Masyarakat ini juga akan kami gandeng untuk mendapatkan pelatihan dan pembinaan digital marketing Rumah BUMN Bank Mandiri," pungkas Rohan.

Sementara itu Regional CEO Hendra Wahyudi menyampaikan, pada tahap awal ini, Bank Mandiri menggandeng Universitas Gadjah Mada untuk melakukan monitoring hingga beberapa tahun kedepan dan melakukan replanting penyulaman bibit mangrove yang gagal tumbuh, baik yang ada di bronjong ataupun yang langung ditanam di tanah dengan penguat ajir dari bambu.

Program ini juga didaftarkan kepada Sistem Registrasi Nasional dalam rangka memperoleh ICER (Indonesia Certified Emission Reduction).

Proyek awal yang berlokasi di Desa Bedono (Demak), Desa Pati Ayam (Kudus), Desa Kedung Malang (Jepara) dan Desa Mulyorejo (Pekalongan) ini adalah untuk meningkatkan ketahanan pantai dan dukungan hutan bagi ratusan orang rentan terdampak.

"Proyek ini akan menghindari banjir dan erosi lebih lanjut di pantai, termasuk kolam budidaya. Tanpa adanya proyek ini, erosi pantai akan terus berlanjut dan tanah pesisir pantai utara akan terus hilang," imbuh Hendra. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved