Guru Berkarya

Meningkatkan Semangat Belajar Matematika dengan Metode MEP

SISWA masih menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit, menakutkan dan membosankan.

Editor: galih permadi
IST
Sukardi, S.Pd., Guru Matematika SMP Negeri 2 Ampelgading Kabupaten Pemalang 

Oleh: Sukardi, S.Pd., Guru Matematika SMP Negeri 2 Ampelgading Kabupaten Pemalang

SISWA masih menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit, menakutkan dan membosankan. Dengan anggapan tersebut menyebabkan kurangnya minat belajar matematika dan akhirnya hasil belajar matematika kurang optimal.

Dari pengamatan penulis, ketakutan dan kebosanan terhadap pelajaran matematika disebabkan diantaranya adalah faktor guru sebagai fasilitator, suasana pembelajaran yang monoton. Ketakutan terhadap pelajaran matematika dapat disebabkan, matematika banyak angkanya, guru dalam menarangkan kurang jelas dan  anak-anak tidak memiliki buku paket dan alat tulis.

Dalam proses pembelajaran matematika, siswa hanya dijarkan dalam suasana pembelajaran yang ajeg dan kurang menarik, artinya siswa hanya sebagai pendengar, pekerja, penulis. Hal ini mengakibatkan keterlibatan atau keaktifan siswa kurang diperhatikan. Hal lain juga terlihat, masih banyak guru yang berpenampilan kurang ramah terhadap siswa, hal ini menyebabkan kekurangnyaman sehingga materi yang disampaikan kurang seluruhnya diterima oleh murid. Disamping itu,  guru dalam melakukan pembelajaran dikelas, masih banyak yang hanya sebatas menyampaikan informasi (materi) tanpa memperhatikan prasyarat yang harus dikuasai siswa untuk memahami materi yang akan diterima siswa atau memberikan prasyarat (pretest) sebelum pembelajaran berlangsung namun mengemasnya kurang menarik dan kurang menyenangkan siswa. Akibatnya komunikasi pembelajaran hanya pada satu arah yaitu guru kepada murid dan siswa kurang memahami materi yang disampaikan guru selanjutnya hasil belajar matematika siswa kurang optimal.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut penulis harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan maka kita gunakan metode Mathematich Expression Pocket (MEP) untuk materi opesari aljabar pada siswa kelas VIII  SMP Negeri 2 Ampelgading, Kabupaten Pemalang.

Langkah-langkah menggunakan metode Mathematich Expression Pocket (MEP). Guru memperkenalkan bentuk media sebelum digunakan, semua siswa menuju ke ruang multimedia untuk mengerjakan soal yang telah diberikan guru dan ditempatkan pada meja tersebut, siswa mengambil soal yang terdapat pada kantong soal dan pengambilannya sesuai nomor absen, guru memberi catatan bahwa nomor yang tertera pada kantong soal adalah nomor absen siswa, kemudian siswa mengerjakan, dengan waktu pengerjaan dibatasi tiga menit, setelah mengerjakan siswa menuju kantong jawaban yang di dalamnya sudah ada kunci jawabannya, siswa tinggal mecocokkan jawabannya, jika jawaban benar siswa mengambil gambar gembira, dan gambar tersebut ditempelkan pada bagian ekspresi sesuai dengan nomor absen siswa, jika jawaban salah siswa mengambil gambar sedih dan gembira ditempelkan pada bagian ekspresi sesuai dengan nomor absen, setelah selesai siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Setelah selesai  guru mengamati hasil kegiatan tersebut melalui bagian ekspresi, apakah ada siswa yang pekerjaannya salah melalui gambar wajah sedih, ternyata tidak ada, dengan metode Mathematcs Ekspression Pocket dapat menambah semangat belajar matematika, dapat membangkitkan motvasi siswa dan menghilangkan rasa takut dan bosan pada pelajaran matematika , hal ini didukung alasan siswa yaitu karena bentuknya menarik, jika salah akan langsung kelihatan pada teman lainnya sehingga membuat malu, jika benar akan senang karena bisa menempelkan gambar gembira dan mendapatkan hadiah nilai tugas, ternyata dengan adanya metode Mathematics sungguh hasilnya sangat menyenangkan sesuai harapan. Semoga bermanfaat bagi peserta didik.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved