Berita Semarang
Dua Ruangan SMP Domenico Savio Semarang Tertimpa Longsor Gunung Brintik, Isinya Sampah
Hujan dengan intensitas lebat menyebabkan tebing, Bukit Brintik atau Gunung Brintik, di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, longsor
Penulis: Muhammad Fajar Syafiq Aufa | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM - Hujan dengan intensitas lebat yang menguyur Kota Semarang, menyebabkan tebing, Bukit Brintik atau Gunung Brintik, di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, longsor, Jumat (16/12).
Hal itu menyebakan dua ruangan SMP Domenico Savio terdampak longsoran.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMP Domenico Savio, Hari Setiawan mengungkapkan, peristiwa tanah longsor terjadi sekira pukul 14.30.
"Lonsoran dari lereng Gunung Brintik," ujar Hari kepada Tribun Jateng.
Baca juga: Pengakuan Pembunuh Siswi SMA yang Mayatnya Dumasukkan Sumur, Keluarga Korban: Hukum Seberat-beratnya
Baca juga: Jadi Lokasi Rumah Jokowi dari Negara, Camat Colomadu Ungkap Harga Tanahnya: Rp 10 Juta Per Meter
Longsoran tanah yang mengenai Ruang BK SMP Domenico Savio, menurut Hari, berisikan sampah rumah tangga.
"Itu kan isinya ada plastik, ada kaca, macam-macam, tapi kebanyakan memang sampah," jelasnya
Hari menambahkan, kejadian longsornya tebing Bukit Brintik yang mengenai SMP Domenico Savio bukan kali pertama. Namun, kata dia, tanah longsor kali ini lebih parah dari sebelumnya.
"Yang pertama itu, satu ruangan tertutup pepohonan bambu, (kejadian) sudah sekitar empat atau lima bulanan lebih," ungkapnya.
Saat kejadian, kata dia, ada dua siswa sedang istirahat di dalam Ruang BK itu.
"Pas hujan deras, kebetulan saya masih di ruangan anak-anak, tiba-tiba keluar teriak-teriak karena kaget dengan suara mengelegar dan kemudian tanah dan air masuk ke ruangan," terangnya.
Material longsor berupa tanah bercampur sampah tersebut tidak hanya mengenai ruang BK.
Ruang komputer sekolah tersebut juga terdampak. Akibat terkena longsor ini, tembok sekolah tersebut rusak.
"Sekarang kondisi temboknya melengkung karena kedorong," imbuhnya.
Tebing yang longsor dan menimpa sekolah tersebut berupa tanah yang bercampur sampah plastik. Menurutnya, sampah tersebut merupakan sampah rumah tangga.
Hari menambahkan, pihak sekolah juga telah melakukan mediasi bersama warga agar tidak membuang sampah di tempat tersebut.
"Dengan kejadian pertama itu, kami pernah memberikan masukan untuk sampah-sampah yang di atas itu dibersihkan dan warga tidak membuang di situ," ujarnya.
Dia berharap, talut yang jebol akibat terkena tanah longsor dapat diperbaiki kembali. "Kalau memungkinkan, karena rawan longsor, misalnya dibikin seperti terasering atau ditembok," tutupnya. (fiq)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/longsor-bukit-brintik1.jpg)