Jaga Inflasi, BI Kerek Lagi Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 persen

kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadikan suku bunga acuan pada 2022 ditutup berada di level 5,5 persen.

Editor: Vito
KONTAN/Fransiskus Simbolon
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2022.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Dengan demikian, suku bunga acuan pada 2022 ditutup berada di level 5,5 persen.

Selain mengerek suku bunga acuan, bank sentral juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen.

Ia pun memastikan akan menyusun kebijakan suku bunga acuan dengan terukur dan melihat situasi.

“BI tidak akan menaikkan suku bunga acuan secara berlebihan. Kenaikan suku bunga acuan ini terukur, sebagai langkah lanjutan untuk secara front loaded, pre-emptive, dan forward looking,” katanya, dalam pembacaan hasil RDG BI, Kamis (22/12), secara daring.

Perry menuturkan, kenaikan suku bunga selama beberapa waktu terakhir adalah respon dari kenaikan inflasi. Hal itu untuk menjaga ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan tak bergerak terlalu liar.

Harapannya, dia menambahkan, transmisi kenaikan suku bunga yang dilakukan BI sudah bisa dirasakan ke ekspektasi inflasi dan tingkat inflasi umum mulai awal 2023.

Perry memperkirakan, inflasi inti pada semester I/2023 tak akan melebihi 4 persen year on year (yoy), kemudian kembali berangsur turun pada semester II/2023, sehingga inflasi inti menuju 3,5 persen yoy pada akhir tahun depan.

"Sedangkan inflasi umum diperkirakan turun di bawah 4 persen yoy pada paruh kedua tahun depan. Dengan kata lain, baik inflasi umum dan inflasi inti akan kembali ke kisaran sasaran BI sebesar 3 persen plus minus 1 persen yoy," jelasnya.

Sebenarnya, Perry sudah melihat pergerakan inflasi yang melandai pada akhir tahun ini. Buktinya, pada November 2022, inflasi tercatat 5,4 persen yoy, lebih rendah dari perkiraan BI lebih dari 6 persen yoy.

Dengan perkembangan itupun, ia memperkirakan inflasi pada akhir 2022 berada di level 5,4 persen yoy, atau lebih rendah dari perkiraan semula. Pergerakan inflasi inilah yang akan menjadi pertimbangan BI untuk kebijakan suku bunga ke depan.

“Pokoknya, lihat saja asesmen ke depan. Tapi, hint sudah jelas bahwa ekspektasi inflasi turun, inflasi umum juga turun dan bahkan lebih rendah dari perkiraan,” jelasnya.

Selain itu, Perry menyebut, kebijakan menaikkan suku bunga juga akan mendorong stabilitas nilai tukar rupiah. Terlebih, untuk mengendalikan inflasi barang impor (imported inflation).

“Di samping itu untuk memitigasi dampak rambatan dari masih kuatnya dollar AS, dan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” jelasnya.

Perry menegaskan, BI akan memperkuat respon bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi. (Kontan.co.id/Bidara Pink)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved