Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Peningkatan Hasil Belajara Pendidikan Pancasila melalui Media “LABIL BEDAK”

Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang penting dimana Pendidikan Pancasila diajarkan dari tingkat sekolah dasar.

Editor: galih permadi
IST
Ely Widhianingsih, S. Pd., Guru Pendidikan Pancasila, SMP Muh Plus Gunungpring 

Oleh: Ely Widhianingsih, S. Pd., Guru Pendidikan Pancasila, SMP Muh Plus Gunungpring

Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang penting dimana Pendidikan Pancasila diajarkan dari tingkat sekolah dasar bahkan sampai perguruan tinggi. Hal ini diharapkan dengan Pendidikan Pancasila maka siswa akan tumbuh menjadi generasi muda yang mempunyai nilai-nilai moral sesuai dengan nilai Pancasila. Selain itu, Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang memberikan pondasi bagi kehidupan yang sesuai dengan kehidupan bangsa. Pendidikan Pancasila adalah hal mutlak yang harus ada di negara Pancasila. Proses memaksimalkan peran nilai-nilai Pendidikan Pancasila tidak hanya di lingkungan keluarga akan tetapi juga di lakukan dalam lingkungan sekolah melalui pembelajaran. Pembelajaran Pendidikan Pancasila diharapkan mampu membawa sebuah muatan materi yang bersifat konstekstual sebagai bahan dasar untuk mengkaji dan berdiskusi sehingga siswa akan bersikap objektif di dalam menyikapi setiap kondisi yang ada.

Belajar di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring menerapkan sistem full day school dimana pembelajaran dilakukan sampai pukul 15.00 dilanjut dengan kegiatan shalat berjamaah. Dengan kondisi ini pembelajaran dilakukan sampai sore. Dibutuhkan sebuah tenaga yang ekstra bagi siswa dalam menyerap ilmu. Menurut Mujayanah (2013:13) full day school merupakan sebuah model Pendidikan alternatif, dimana siswa sehari penuh berada di sekolah untuk melakukan proses pembelajaran dan proses beribadah. Hal ini diperlukan sebuah ide-ide kreatif agar siswa tetap menikmati pembelajaran yang menarik.

Proses pembelajaran yang dilakukan di siang hari bahkan sore hari membuat siswa bosan, fisik yang lelah, jika pembelajaran hanya terpusat pada guru maka akan membuat siswa mengantuk, serta tingkat istilah penggunaan bahasa yang belum familiar di telinga siswa membuat siswa kebingunan dalam memahami konsep yang ada, materi begitu banyak dan banyak yang dihafal sehingga akan mempengaruhi hasil belajar siswa dalam mengerjakan soal dan kesulitan. Salah satu penyebab dari kondisi ini adalah siswa belum memahami materi. Agar materi mudah di ingat oleh siswa maka guru harus menyiapkan sebuah strategi dimana pembelajaran itu menarik dan menyenangkan.

Guna mengatasi permasalahan di atas, guru akan melaksanakan sebuah pembelajaran melalui media “labil bedak”. Penggunaan media sangat memudahkan siswa dalam memahami materi karena siswa dapat terlibat aktif, berantusias, dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap proses pembelajaran. Labil bedak ini kepanjangan dari belajar sambil bermain dakon. Permainan dakon ini adalah salah satu permainan tradisional.

Pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam materi Sejarah Lahirnya Pancasila di kelas VII SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring dengan mengunakan media dakon sebagai bagian untuk menarik antusias siswa dalam belajar sangatlah berhasil dimana hal ini terlihat dari aktivitas siswa yang sangat senang di dalam proses pembelajaran. Pembelajaran ini siswa diminta bermain sambil belajar dengan di iringi lagu-lagu daerah agar suasana belajar tidak kaku akan tetapi menyenangkan. Penerapan ini sebagai upaya dalam menyikapi karakteristik siswa dengan gaya belajar yang tentu setiap siswa berbeda-beda. Dengan pembelajaran yang berdeferensiasi inilah siswa bisa secara aktif mengikuti pembelajaran. Pembelajaran dakon juga menumbuhkan nilai-nilai yang tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang ditumbuhkan adalah nilai kejujuran, kesabaran, bahkan setiap siswa perlu menerapkan sebuah strategi dalam memangkan sebuah permainan dan mampu menjawab pertanyaan dari siswa lain.

Pembelajaran Pendidikan Pancasila yang menyenangkan diharapkan mampu mengubah cara pandang siswa dalam belajar dan siswa mampu mengimplemtasikan nilai-nilai secara kontekstual sesuai tuntutan zaman. Soft skill yang dimiliki siswa diharapkan mampu sebagai pondasi untuk mencapai kesuksesan dan cita-cita.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved