Berita Semarang
Bernostalgia di Bangunan Tua Eks Studio Foto Gerak Cepat Semarang
Sebuah bangunan berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di Jalan Layur Semarang.
Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketika beberapa bangunan di Kota Lama Semarang mengalami pemugaran, sebuah bangunan berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di sudut Jalan Layur nomor 121 Dadapsari, Semarang Utara. Atau orang biasa menyebut kampung Melayu Semarang.
Bangunan berlantai dua itu memiliki atap yang dipenuhi dedaunan pohon besar.
Beberapa tumbuhan liar menggelayut menutupi sebagian tembok depan.
Di dalam rumah, sebuah pohon besar tumbuh menyatu bersama dinding. Bahkan, menembus atap.
"Lusuh dan seperti tak terjamah orang. Ya begitu kesan saat orang pertama kali berkunjung di rumah ini," kata pemilik rumah, Nurul Hidayah pada Jumat (13/1/2023).
Kepada Tribunjateng.com, ibu tiga anak tersebut adalah anak dari Ali Machroos bin Abdullah Machroos, warga keturunan Arab sekaligus pemilik "Studio Seni Foto Gerak Cepat". Sebuah studio foto yang melegenda di zaman penjajahan Belanda.
Jasa fotografi mendiang ayahnya, disebut Nurul bahkan telah menjadi studio terbesar di Semarang.
"Dulu studio ini pernah berjaya pada masanya," imbuhnya
Untuk menjawab rasa penasaran, Nurul mencoba membawa kami melihat ingatan masa lalunya melalui beberapa foto yang ditunjukkan.
Koleksi foto karya mending ayahnya, masih ia simpan rapi baik dalam bentuk digital maupun dokumen.
Nurul bercerita, di saat jasa studio lain membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencetak foto, Studio Seni Foto Gerak Cepat milik mendiang ayahnya hanya membutuhkan waktu satu jam untuk menunggu foto hingga jadi.
"Itulah sebabnya, banyak orang berdatangan untuk menggunakan jasa foto di studio ini," paparnya.
Ia pun sempat meneruskan jasa usaha foto milik mendiang ayahnya tersebut selama belasan tahun.
Namun, banjir rob yang melanda Kota Semarang setiap tahun membuat Nurul menyerah dan menutup jasa usaha foto tersebut di tahun 2003.
"Sudah kalah dengan rob. Tokonya saya tutup. Kalau mau buka lagi sudah nggak mampu mas," kata Nurul.
Kisah Cinta Semalam PSK dengan ABK
Bangunan bersajarah terletak di Jalan Layur No 121 di Kota Semarang yang bernama Studio Seni Gerak Cepat itu rupanya pernah menjadi tempat untuk mengabadikan cinta sesaat antara anak buah kapal (ABK) dan PSK yang datang ke Semarang.
Dalam buku "Kota Pelabuhan Semarang dalam Kuasa Kolonial" menyebut daerah tersebut sempat menjadi tempat berlabuh bagi kapal yang datang dari penjuru kota.
Hal itu, dibuktikan dengan adanya mercusuar yang berada di Masjid Layur. Dulunya, menara tersebut pernah dijadikan untuk menandai kedatangan kapal.
"Memang dulu tempat ini banyak dikunjungi para ABK untuk foto bersama wanita (PSK) di sini, ya cinta singkatlah pacar semalam," kenang Nurul.
Saking terkenalnya foto studio tersebut, Nurul menyebut mendiang ayahnya bahkan harus mencari 13 karyawan.
"Dulu karyawan bapak banyak, sampai 13 orang," tambahnya.
Ingin Buat Galeri Foto
Berdasarkan keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/Tahun 1992, bangunan bekas studio foto tersebut telah diresmikan sebagai bangunan cagar budaya.
Akan tetapi, Nurul ingin Pemerintah Kota Semarang lebih memperhatikan kondisi bangunan yang kini kian semrawut.
"Jujur saya bangga rumah ini menjadi cagar budaya. Bisa menjadi saksi sejarah,"
"Tapi setidaknya dibuatkan museum kecil atau galeri foto untuk menata agar nanti wisatawan tahu atau ketika datang ke sini dan ada yang bisa diperlihatkan secara rapi dan patut,” ujarnya sambil menunjukkan foto kenangan dirinya bersama mendiang ayahnya dulu.
Sebab, kata dia, dirinya tak akan mampu jika harus mengurus pembangunan galeri foto.
"Kalau semua dipasrahkan ke saya, ya saya ndak mampu. Ini berat," katanya.
Rasa cinta dan indahnya kenangan di rumah itu telah membuat Nurul beserta keluarganya enggan pindah.
Bahkan, meskipun rumah yang kini ditinggali bersama suaminya tersebut menjadi langganan banjir, ia tetap tak bergeming untuk pindah rumah.
“Saya tidak lahir di rumah ini, tapi saya tinggal lama di sini. Banyak kenangan bersama orang tua,"
"Saya cinta dengan rumah ini makanya bertahan. Eman-eman kalau ditinggal,” ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/studio-foto-cepat7.jpg)