Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

FOKUS: Haters Lato-lato

ENTAHsiapakah yang mengawali hingga kemudian lato-lato menjadi hits di Indonesia saat ini. Kehadirannya begitu masif sejak akhir 2022 dan nyaris di se

Penulis: deni setiawan | Editor: m nur huda
tribunjateng/grafis/bram
Deni Setiawan Wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis Oleh WartawanTribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM - ENTAHsiapakah yang mengawali hingga kemudian lato-lato menjadi hits di Indonesia saat ini. Kehadirannya begitu masif sejak akhir 2022 dan nyaris di setiap perkampungan, utamanya pada sore hari, ada yang memainkannya.

Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun mulai menyukainya. Bahkan, tak sedikit beberapa orang membentuk komunitas hingga dikompetisikan.

Lato-lato adalah dua bola plastik padat, keras, dan memiliki permukaan halus. Dua bola itu diikat seutas tali dengan cincin jari di tengah. Ini adalah mainan tradisional yang bertujuan untuk menguji ketangkasan maupun keterampilan fisik, utamanya jari tangan.

Untuk memainkannya, seseorang harus mengayunkannya agar berbenturan mulai dari lambat hingga cepat sehingga menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi itulah yang kemudian menjadi ciri khas tersendiri.

Ditinjau dari asalnya, sesuai catatan sejarah, lato-lato berasal dari Amerika Serikat. Itu ditemukan oleh Marvin Glass dan dipasarkan melalui perusahaan bernama Marvin Glass and Associates pada 1968.

Mainan tersebut kala itu sempat ditarik dari peredaran karena dapat membuat luka orang di sekitarnya. Kala itu, lato-lato terbuat dari bahan kaca temper, yang mudah pecah.

Kini, seiring perkembangannya, demi meminimalisir risiko, digantilah bahan yang awalnya kaca temper menjadi plastik padat –seperti yang terlihat saat ini--.

Bagi mereka generasi 60 hingga 80 an, melihat lato-lato dan mendengarkan suaranya seakan bernostalgia di masa kecilnya. Jika digambarkan, nyaris serupa ngehitsnya seperti saat ini.

Sayangnya, kondisi zaman dahulu tak seperti saat ini. Kini, ada saja pihak, baik itu individu maupun kelompok tertentu yang tak menyukai mendengar suara khas dari lato-lato tersebut.

Dengan berbagai dalih seperti haters, memprotes demi pembenaran agar permainan tersebut tak didengar di lingkungan tempat tinggalnya. Lebih aneh lagi, muncul kebijakan jika lato-lato dilarang dibawa ke sekolah.

Bahkan ada beberapa sekolah menggelar razia lato-lato. Alasannya karena berisik, mengganggu ketenangan maupun menjadi barang yang berbahaya. Sehingga muncul aksi penolakan.

Secara pribadi penulis, entah apa yang membuat mereka tak cukup bisa untuk berpikir logikanya tanpa mengedepankan egoisnya. Kritis boleh tapi tak asal suka dan tidak suka.

Mengapa ketika anak-anak membawahandphoneke sekolah, tak dilarang. Atau orangtua yang protes, mengapa justru senang anak-anak mereka bermain game online.

Inilah yang terkadang aneh jika melihat era zaman sekarang. Seolah-olah lebih senang generasi muda saat ini menjadi sosok individualism ketimbang berkelompok bermain mainan tradisional.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved