Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Ki Ageng Pandanaran, Murid Sunan Kalijaga Penyebar Agama Islam dan Pendiri Kota Semarang

Ki Ageng Pandanaran, itulah sosok penyebar agama Islam dan Bupati pertama di Semarang. Makamnya terletak di Jalan Mugas Dalam II, Nomor 04 RT 07/RW 03

|

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berkunjung ke Ibukota Jawa Tengah tak lengkap jika belum mengenal tokoh penyebar agama Islam dan pendiri Kota Semarang.

Ki Ageng Pandanaran, itulah sosok penyebar agama Islam dan Bupati pertama di Semarang. Makamnya terletak di Jalan Mugas Dalam II, Nomor 04 RT 07/RW 03 Mugassari Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang. 

Ajaran-ajaran dan kegiatan yang dilaksanakan Ki Ageng Pandanaran masih dilestarikan  hingga saat ini.

Keturunan Ki Ageng Pandanaran, Aris Pandan Sejawan menerangkan Ki Ageng Pandanaran berasal dari Kerajaan Demak. Ki Pandanaran  merupakan murid dari Sunan Kalijaga.

"Ki Ageng Pandanaran diutus Sunan Kalijaga untuk belajar menyiarkan agama Islam dengan pendekatan budaya," tuturnya, Jumat (31/3/2023).

Dalam menyiarkan Agama Islam, Ki Ageng Pandanaran lama tinggal di wilayah Mugas yang dulu disebut Bergota. Bersama pengikutnya, Ki Ageng Pandanaran juga ikut berperan babat alas di Kota Semarang dengan meyiarkan Agama Islam.

"Nama asli beliau adalah Pangeran Made Pandan. Dijuluki Pandanaran karena dulu sekitar Mugas banyak pohon asam yang arang-arang. Kemudian beliau mengembara dan kembali ke sini kaget karena pohonnya arang-arang (jarang-jarang) pohon asam. Kemudian beliau disebut Ki Ageng Pandanaran," jelasnya.

Menurutnya, ketika telah banyak pengikutnya menyebarkan Agama Islam, Ki Ageng Pandanaran mendirikan Kadipaten yang arenya mencakup dari  Kabupaten Semarang hingga Kabupaten Kendal. 

Sebelum wafat Ki Ageng Pandanaran memiliki penerus yang dinamakan Pandaran II atau sekarang disebut Sunan Bayat.

"Pandanaran II mengembara hingga bukit Jabalkat Kabupaten Klaten," ujarnya.

Banyak peninggalan pusaka bersejarah, Ki Ageng Pandanaran saat menyebarkan agama Islam yang saat ini masih tersimpan. Semasa hidupnya, Ki Ageng Pandanaran juga banyak meninggalkan ajaran agama.

"Setiap bulan ramadan, beliau selalu mengadakan kajian kitab-kitab yang ditinggal. Kitab-kitab merupakan kitab kuno yang masih bertuliskan bahasa Jawa. Isi kitab itu intinya mengajarkan kesabaran dan tepo seliro," jelasnya.

Aris menjelaskan Ki Ageng Pandanaran tidak memiliki padepokan besar. Ki Ageng Pandanaran hanya melaksanakan kajian di padepokan kecil yang hanya diikuti orang-orang tertentu. 

"Jadi santrinya datang setiap waktu tertentu jika ada kajian. Kalau ramadan beliau mengadakan kajian rutin setiap pagi, menjelang buka puasa, dan sebelum salat tarawih berjamaah," jelas dia.

Kebiasaan Ki Ageng Pandanaran menggelar kajian masih diteruskan hingga saat ini. Kajian dilaksanakan sebelum bulan ramadan dan setiap menjelang buka puasa. Sela

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved