Fokus
FOKUS : Investasi Gaib ala Dukun Penggandaan Uang
PRAKTIK dukun penggandaan uang kembali memakan korban. Kali ini, peristiwa memilukan terungkap di Banjarnegara
Penulis: moh anhar | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Moh Anhar
Wartawan Tribun Jateng
PRAKTIK dukun penggandaan uang kembali memakan korban. Kali ini, peristiwa memilukan terungkap di Banjarnegara, Jawa Tengah.
Untuk sementara, korban jiwa dari tangan dukun Tohari (45) alias Mbah Slamet ini 11 orang, yang ditemukan terkubur di sebuah kebun Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Senin (3/4).
Aparat kepolisian terus melakukan penelusuran sepak terjang dukun, yang "pemasarannya" melalui media sosial Facebook ini.
Ia menjanjikan akan melipatgandakan uang korban yang telah disetorkan. Korban akhirnya dibunuh lantaran terus-menerus menagih janji palsu tersebut.
Dari kasus ini, kita pasti akan mempertanyakan, di era modern sekarang ini orang masih percaya "sulapan" penggadaan uang.
Ingat! Korban penipuan penggandaan uang ini justru kalangan berduit. Bila mereka ingin uang digandakan maka korban harus menyetor uang terlebih dulu.
Jumlah setorannya bukan main-main jumlahnya. Korban Mbah Slamet ini disebutkan menyetor uang antara Rp40 juta-50 juta.
Mereka diiming-imingi, uang yang disetor akan bertambah menjadi Rp 5 miliar.
Dari jumlah korban yang sudah ditemukan, kita pun dibuat geleng-geleng. Ternyata, yang berminat tak cuma 1-2 orang.
Seolah betapa mudahnya, mengunggah "kehebatan" kemampuan menggandakan uang di Facebook, lalu orang yang menontonnya bisa tergiur.
Tapi inilah faktanya. Dengan uang Rp40 juta-50 juta, lalu berlipat hingga miliaran rupiah dengan jalan pintas melalui dukun menjadi pilihan.
Untuk para korban, tentunya kita menyampaikan rasa turut berduka cita, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Uang hilang masih bisa dicari, tapi bagaimana kalau nyawa yang hilang?
Dalam kasus dukun Mbah Slamet ini, korban diracun. Ada motif penghilangan nyawa orang lain dari tindakan kejahatan yang sudah dilakukan.
Terlebih korban lebih dari satu orang dengan masa beroperasi sampai lima tahun. Ini sudah menunjukkan ini perbuatan yang terencana.
Bila kita mencoba kilas balik waktu yang telah berlalu, sejumlah kasus penggandaan uang oleh dukun sudah ramai mengemuka. Kasus yang populer, kita ingat nama Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng asal Probolinggo, Jawa Timur.
Saban waktu, kasus dukun penggandaan uang ini muncul dan berujung pada kriminal yang ditangani kepolisian.
Rentetan kasus serupa ini seharusnya sudah cukup bukti, dukun penggandaan uang tak semanis yang diharapkan. Jalur dukung penggandaan uang dengan ritual tertentu ini bukan jenis "investasi" idaman.
Sebaliknya, investasi jalur gaib ini malah berujung petaka. Karenanya, perlu kesadaran, memperoleh uang tidak bisa instan, dengan cuma sim salabim.
Investasi dengan cara legal, berdagang misalnya, memang butuh kerja keras dan keuletan untuk berhasil. Dengan ikhtiar berusaha mencari rezeki hala dan barokah diharapkan bisa juga dijauhkan dari hal-hal malapetaka. (*)
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Besok Kabupaten Demak, Ramadhan Hari ke-14, Rabu 5 April 2023
Baca juga: Ganjar Komitmen Kembangkan Ekonomi, Keuangan dan Pelayanan Kesehatan Syariah
Baca juga: Dukun Pengganda Uang Masih Laku, Budaya Konsumtif dan Masih Percaya Takhayul Jadi Pemicunya
Baca juga: Prakiraan Cuaca Cilacap Selasa 4 April 2023, Malam Diguyur Hujan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/moh-anhar-wartawan-tribun-jateng-ok_20170831_073512.jpg)