Selasa, 7 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pembunuhan Berantai Dukun Banjarnegara

Pembunuhan Berantai Mbah Slamet Banjarnegara Mengingatkan pada Kasus Wowon cs, Ini Persamaan Mereka

Kasus pembunuhan berantai Mbah Slamet mengingatkan pada peristiwa serupa yang didalangi Wowon CS

Editor: muslimah
Kolase Tribunnews.com
Kasus pembunuhan berantai di Banjarnegara dengan tersangka Mbah Slamet (kiri) dan tersangka pembunuhan di Bekasi dan Cianjur dengan tersangka Wowon (kanan). Pengamat menilai kasus pembunuhan berantai Mbah Slamet dengan kasus Wowon cs tidak memiliki perbedaan. Mereka sama-sama seorang residivis. 

TRIBUNJATENG.COM - Dukun pengganda uang asal Banjarnegra Mbah Samet Tohari membuat geger.

Ia diduga membunuh sebelas orang selama menjalankan praktiknya.

Kasus Mbah Slamet mengingatkan pada peristiwa serupa yang didalangi Wowon CS.

Anggota Pusat Kajian Assessment Pemasyarakatan Poltekip Kemenkumham, Reza Indragiri Amriel, menilai kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh dukun pengganda uang di Banjarnegara dengan tersangka bernama Slamet Tohari (45) dengan kasus Wowon cs memiliki kesamaan.

Baca juga: Kemana Uang Para Korban Dukun Pengganda Banjarnegara Mbah Slamet? ini Pengakuannya kepada Polisi

Baca juga: Kades Sebut Mbah Slamet Dukun Pengganda Uang Banjarnegara Jarang Bersosialiasi

Reza menilai para tersangka yang terlibat dalam dua kasus tersebut, sama-sama bisa disebut residivis lantaran terlibat dalam pembunuhan majemuk atau multiple killing.

"Sama-sama pembunuhan majemuk (multiple killing). Karena itulah pelaku sebenarnya sudah bisa disebut sebagai residivis, kendati mungkin belum pernah masuk penjara."

"Perhitungan residivismenya bukan berdasarkan keluar masuk penjara, tapi berdasarkan re-offend atau mengulangi perbuatan pidana," ujarnya saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (4/4/2023).

Menurutnya, para pelaku dalam kedua kasus tersebut telah menjadikan membunuh orang lain sebagai metode mencari uang.

"Sudah menjadi profesi. Semakin lama, semakin fasih," kata Reza.

Dia pun membeberkan data di mana rata-rata orang melakukan pembunuhan majemuk untuk pertama kalinya pada umur 27 tahun.

Selain itu, jeda waktu yang dibutuhkan untuk membunuh satu orang ke korban berikutnya biasanya berlangsung dalam kurun waktu sekitar 34,5 bulan.

"Dari situ (data) bisa diestimasi hingga saat ini berapa jumlah korban yang dihabisi si dukun," paparnya.

Di sisi lain, Reza melihat banyak korban yang bisa dijadikan target operasi oleh sosok pembunuh seperti Slamet ataupun Wowon cs.

Salah satu korban potensial yang dimaksud adalah masyarakat yang terlibat masalah keuangan.

"Di zaman serba susah seperti sekarang, hitung-hitungan di atas kertas banyak korban potensial. Yaitu mereka yang terbelit masalah finansial," tukasnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved