Berita Kabupaten Tegal
Ini yang Menjadi Kendala Pelaku Usaha dan Pegiat Kopi di Kabupaten Tegal
Gerai coffee shop sekarang ini menjamur dan sudah menjadi gaya hidup tak terkecuali di wilayah Kabupaten Tegal
Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Gerai coffee shop sekarang ini menjamur dan sudah menjadi gaya hidup tak terkecuali di wilayah Kabupaten Tegal.
Seiring peminat kopi yang bertambah, namun faktanya di lapangan masih terdapat beberapa kendala terutama berkaitan dengan penyiapan kopi untuk siap jual.
Informasi tersebut dijelaskan oleh pelaku usaha dan pegiat kopi asal Tegal, Ramanitya Khadifa atau kerap disapa Difa, pada Tribunjateng.com Senin (5/6/2023).
Difa mengatakan, permasalahan atau kendala yang ditemui bukan pada pemasaran, tapi ada di jalur tengah atau istilahnya orang yang menyiapkan agar kopi siap dijual ke pasaran.
Baca juga: Massa Gruduk Kantor BPN Pemalang, Bawa Pamflet: Pejabat BPN Cabuli Aku Dong, Kok Beraninya sama Anak
"Kendalanya belum ada yang menyiapkan kopi hasil panen siap dijual atau istilahnya prosesor. Karena ketika kami menjual masih bentuk biji kopi belum dikupas harganya kurang menguntungkan. Tapi ketika menjadi pengolah dan menjual biji kopi mentah, maka lumayan untung meskipun tetap ada kaidah atau syarat tertentu," ungkap Difa, pada Tribunjateng.com.
Sementara menurut Difa, prosesor ini digambarkan sebagai orang atau wadah yang menjembatani supaya bisa menjual produk kopi lokal Kabupaten Tegal.
Tidak hanya sekedar menjembatani, tapi prosesor juga diharapkan bisa meminjamkan modal sementara, membangun fasilitas penjemuran kopi, dan lain-lain.
Karena selama ini, dikatakan Difa jika kopi belum laku terjual maka disimpan terlebih dahulu.
"Kalau sejauh ini kopi lokal kami pemasarannya jelas daerah Tegal dan sekitarnya. Sedangkan luar kota kami sudah sampai ke Jakarta, Bandung, luar jawa dan lain-lain. Tapi karena jumlah kopi yang kami hasilkan terbatas, maka sejauh ini baru nusantara saja belum sampai ekspor ke luar negeri. Walaupun sebenarnya ketika bisa sampai ekspor sangat menjanjikan," ujarnya.
Difa menilai, di Tegal masih banyak lahan yang bisa dijadikan untuk penanaman kopi terlebih ketika tujuannya untuk ekspor.
Tetapi permasalahan ada di para pelaku usaha atau pegiat kopi nya.
Mengingat sementara ini, masih terkendala dengan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang mengurus proses perawatan, pengolahan, dan fasilitas terbatas.
Sehingga sekarang ini, Difa dan rekan-rekan yang tergabung dalam komunitas serumpun barista Tegal (Serbat) fokus ke yang sudah ada dan dijadikan sebagai opsi yang menjanjikan supaya petani kopi lainnya tergerak.
"Kebutuhan kopi di Indonesia saja sangat menjanjikan apalagi di dunia. Permasalahan satu-satunya yaitu terkait peyiapan jumlah kopi yang belum memenuhi dan masih kurang," kata Difa.
Sebelumnya, sekitar tahun 2017, Difa bersama teman-teman yang tergabung dalam komunitas serumpun barista Tegal (Serbat) mencari ke wilayah atas apakah di Kabupaten Tegal ada kebun kopi atau tidak, sampai akhirnya bertemu dengan warga atau orang yang memiliki kebun kopi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Foto-pelaku-an-s-562023.jpg)