kominfo kota pekalongan
Delegasi Dari 20 Negara Belajar Membatik di Museum Kota Pekalongan
Para delegasi dari 20 negara asing pada program kemitraan Indonesia belajar membatik selain mengidentifikasi persoalan perubahan iklim.
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Para delegasi dari 20 negara asing pada program kemitraan Indonesia selain meninjau dan mengidentifikasi permasalahan dan penanganan fisik secara langsung atas adanya perubahan iklim yang terjadi.
Mereka juga belajar mengenal berbagai macam potensi unggulan lokal yang ada di Kota Pekalongan, salah satunya batik.
Puluhan perwakilan negara dari benua Afrika, Asia, dan Amerika ini terlihat sangat antusias saat pemandu Museum Batik menjelaskan berbagai jenis kain batik khas Nusantara dan mengajarinya praktik membatik.
Baca juga: Sosok Jessica Bacaleg Termuda DPRD Kota Solo Berkeinginan Pasarkan Batik Go Internasional
Direktur Program Kemitraan Indonesia, Dewi Rizky menyampaikan, dari kegiatan edukasi di Museum Batik ini, para delegasi 20 negara bisa memahami beragam corak batik yang ada di Indonesia khususnya batik khas Kota Pekalongan dan pemanfaatan pewarna alami.
"Disamping mengedukasi para delegasi negara ini, nanti Kemitraan juga akan melatih 400 orang pembatik di Kota Pekalongan dengan menggunakan pewarna alami," kata Direktur Program Kemitraan Indonesia, Dewi Rizky, Jumat (9/6/2023).
Menurutnya, dari kegiatan pengenalan potensi unggulan lokal daerah di program Adaptation Fund ini, diharapkan negara-negara yang datang berkunjung ke Kota Pekalongan bisa melihat dan memahami serangkaian proses membatik sebagai warisan budaya bangsa yang harus terus dilestarikan.
"Tujuan dari proyek Adaptation Fund ini juga sebenarnya agar bisa meningkatkan potensi masyarakat lokal di Kota Pekalongan untuk terus menggunakan pewarna alami. Sebab, nantinya produksi batik mereka bisa memiliki harga yang memang premium dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat," harapnya," imbuhnya.
Communication Officer Adaptation Fund, Matthew mengaku senang bisa terlibat dan membawa para delegasi 20 negara asing penerima dana Adaptation Fund untuk belajar bersama mengenal dan praktik langsung membatik di Museum Batik Kota Pekalongan.
"Ternyata proses membatik itu cukup sulit, posisi tangan memegang canting harus benar, karena apabila kurang tepat malam yang sudah dipanaskan untuk diaplikasikan ke kain mori bisa tumpah dan mengenai tangan atau baju kalau kita kurang hati-hati," tutur Matthew.
Baca juga: Pemerhati Gali Potensi Batik Syailendra, Upaya Kembalikan Kejayaan Batik Khas Batang
Hal senada juga disampaikan delegasi dari negara Tanzania, Genoveva Mashenene, ia begitu takjub dan senang bisa mengenal potensi wisata Kota Pekalongan, seperti Museum Batik ini.
"Dari kain mori, hingga tercipta aneka ragam corak batik yang begitu indah prosesnya begitu rumit dan membutuhkan waktu."
"Ini pengalaman pertama saya, bisa belajar membatik yang ternyata tidak mudah prosesnya," ucapnya. (Dro)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Para-delegasi-dari-20-negara-asing-belajar-membatik.jpg)