Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pertalite Berpotensi Dihapus

BBM jenis Pertalite disebut tak ramah lingkungan, sehingga tidak sesuai dengan upaya memperbaiki kualitas udara.

Editor: Vito
TribunJateng.com/Muhammad Yunan Setiawan
Seorang pegawai di SPBU di Jepara sedang melayani pembelian BBM bersubsidi Pertalite. 

TRIBUNJATENG.COM, TANGERANG - Memburuknya kualitas udara sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di kota-kota besar yang mobilitas masyarakatnya tergolong tinggi, seperti wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), antara lain disebabkan tingginya penggunaan kendaraan bermotor berbasis bahan bakar fosil.

Komisaris Utama PT Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengatakan, hal itu sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Seiring berjalannya waktu, kualitas udara di kota kian lama menjadi tak baik.

Hal itupun membuat Pertamina telah menghapus penjualan BBM dengan kadar oktan atau RON rendah senilai 88, yakni jenis Premium. Menurut dia, Premium merupakan jenis BBM yang kotor. Bahkan, ia juga menyebut, BBM jenis Pertalite juga tak ramah lingkungan.

"Sebetulnya dulu kami cabut Premium, dan lu (masyarakat-Red) pada teriak, itu Premium jelas kotor kan, dan Pertalite juga enggak sesuai (dengan upaya memperbaiki kualitas udara-Red)," katanya, dalam acara 'Ucap Ahok' dalam acara GAIKINDO International Automotive Conference, di Indonesia Convention Exhibition Tangerang, Selasa (15/8).

Dengan kondisi itu, Ahok akan mendorong Pertamina untuk menjual BBM dengan nilai oktan yang lebih baik, minimal seperti Pertamax 92. Penjualan BBM jenis itu akan digencarkan di berbagai wilayah, baik kota besar maupun di desa-desa.

Untuk penjualan Pertamax, Pertamina akan memaksimalkan para pelaku bisnis Pertashop yang tersebar di berbagai kelurahan di Tanah Air.

Berdasarkan pengamatan Ahok, meningkatnya kadar polusi di desa satu di antaranya disebabkan para pedagang eceran alias Pertamini, yang menjual BBM subsidi yakni Pertalite dan Solar.

"Yang jadi masalah sekarang orang beli bensin Pertalite subsidi, Solar subsidi di SPBU, dan dibawa (dijual lagi oleh pengecer-Red) ke kampung, jadi Pertamini, dan enggak ditutup-tutup. Pertamini jual lebih mahal, rakyat beli lebih mahal dengan kualitas yang rendah," tukasnya.

Adapun, Ahok menuturkan, perseroan terus berupaya melakukan pengembangan energi terbarukan, sejalan dengan upaya pemerintah mencapai net zero emission (NZE).

Ia pun mendorong pengembangan dan pemanfaatan energi khususnya yang berbasis hidrogen untuk kendaraan ramah lingkungan.

Ahok menilai, infrastruktur Pertamina cukup siap untuk melakukan hal tersebut. "Kami Pertamina, infrastrukturnya dari mulai geotermal, kilang, pipa itu paling siap adalah untuk hidrogen. Kami bisa mengganti terminal hidrogen," bebernya.

Saat ini, Pertamina melalui unit usahanya yakni Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), sedang melakukan pengembangan hidrogen. Hal itu mengingat potensi hidrogen bersih di Indonesia sebagai bahan bakar cukup besar.

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki Indonesia yang menyebabkannya memiliki potensi ini, antara lain pertama, sumber energi yang dimilikinya cukup beragam dengan jumlah yang cukup melimpah.

Kedua, ukuran pasar yang besar mendorong potensi permintaan hidrogen yang tinggi di masa depan, terutama di sektor transportasi berat.

Ahok menyebut, kesuksesan penggunaan hidrogen sebagai sumber energi untuk kendaraan bergantung kepada pasar.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved