Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Terdampak Belanja Online, Kinerja Sektor Ritel Makin Melemah

Kinerja sektor ritel pada kuartal II/2023 sebesar 1,2 persen, menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang mencapai 2,6 persen

Editor: Vito
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
ilustrasi - Mal Ciputra Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kinerja sektor ritel makin melemah pada kuartal II/2023. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat pertumbuhan sektor ritel di periode laporan sebesar 1,2 persen, menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal I/2023 mencapai 2,6 persen.

Hal itupun membuat Ketua Umum Aprindo, Roy Nicholas Mandey khawatir. "Ini yang saya bilang bertolak belakang. Inflasi (nasional) merendah, pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi sektor ritel modern ini justru rendah," katanya, kepada wartawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia mengaku prihatin akan situasi itu. Menurut dia, alasan penurunan pertumbuhan tersebut disebabkan berbagai hal. Pertama, perilaku konsumen berubah. Roy mengatakan, mereka lebih memilih untuk belanja dari rumah melalui aplikasi.

"Kalau belanja dari rumah kan beda dengan di toko. Kalau belanja ke toko, bisa tahu-tahu satu troli. Kalau belanja dari aplikasi, delivery, ya paling satu tas isi berapa kebutuhan pokok saja. Jadi, jumlah atau ukurannya menurun," ujarnya, akhir pekan lalu.

Kedua, dia menambahkan, peritel banyak yang belum berubah menjadi lebih kekinian. "Kekinian itu sekarang menjadi hal yang penting. Mengadopsi teknologi, mengadopsi bagaimana penjualan yang tidak hanya di toko, tetapi lewat berbagai cara seperti media sosial, WhatsApp marketing, dan sebagainya," bebernya.

Ketiga, Roy menuturkan, suasana sekarang masih menantang, dan Indonesia sedang berada di tahun politik. "Kita masuk ke tahun politik yang semuanya tentu masih melihat situasi dan kondisi, sehingga ada kecenderungan untuk menahan belanja di ritel," jelasnya.

Keempat, ia berujar, pengeluaran masyarakat yang kini tidak cenderung menghabiskan uang untuk kebutuhan pokok. Namun, masyarakat disebut lebih mengutamakan menabung, baik itu untuk pendidikan, investasi, atau hal lain.

"Kebetulan pas kuartal kedua ini masuk musim pendidikan, musim masuk sekolah bagi orang tua. Belanja yang cukup saja, yang sesuai kebutuhan," ucapnya.

Roy menyatakan, pasar swalayan besar, yakni supermarket dan hypermarket lebih terdampak dibandingkan dengan minimarket yang tak begitu merasakan imbasnya. Ia pun menyebut bahwa kondisi ritel sekarang ini sedang tidak baik-baik saja.

Roy meminta pemerintah agar lebih memperhatikan ritel. Sebab jika tidak, akan sulit bagi ritel untuk berkontribusi pada perekonomian Indonesia.

"Bisa dibayangkan ketika ritelnya sehat atau perkembangan daripada sektornya ke hilir ini bagus, pasti kontribusi ke ekonomi lewat konsumsi dan pertumbuhan kita mestinya bisa naik lagi," paparnya.  (Tribunnews/Endrapta Ibrahim Pramudhiaz)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved