Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

AAL Harus Menjadikan Komunikasi Sebagai Pilar Utama

Akademi Angkatan Laut (AAL) harus semakin menegaskan perannya dalam mengadaptasi diri terhadap dinamika kepemimpinan

Tayang:
Editor: Erwin Ardian
Tribun Jateng
Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana 

 

Era digital, lanjut Dr Aqua Dwipayana, juga memunculkan eksistensi media sosial yang tak bisa dilepaskan dari situasi sosial saat ini.  Pemimpin perlu memahami dan memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan audiensnya. Melalui platform-platform seperti Twitter, LinkedIn, atau Instagram, pemimpin dapat berinteraksi langsung dengan siapapun para pemangku kepentingan dan masyarakat secara lebih informal dan personal.

 

“Komunikasi publik membantu pemimpin dalam meningkatkan keterlibatan personel dengan menyampaikan visi, misi, dan tujuan organisasi secara jelas. Penggunaan teknologi digital, seperti webinar atau platform kolaborasi online, dapat mendukung keterlibatan anggota di berbagai lokasi,” kata pembicara laris ini menegaskan.

 

Dalam era digital yang dinamis, lebih jauh disampaikan, pemimpin perlu dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Komunikasi yang efektif membantu menyampaikan perubahan dengan jelas, memotivasi tim, dan mengurangi ketidakpastian.

 

“Selain itu, komunikasi publik menjadi kunci dalam mengatasi krisis. Pemimpin harus dapat merespon dengan cepat, memberikan informasi yang akurat, dan mengelola persepsi masyarakat agar kerugian dapat diminimalkan,” kata Dr Aqua Dwipayana.

 

Pria yang telah memotivasi lebih dari sejuta orang baik di Indonesia maupun puluhan negara itu menegaskan bahwa melalui komunikasi publik, pemimpin dapat memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Ini membantu dalam mengarahkan kebijakan dan program organisasi sesuai dengan harapan dan nilai-nilai yang diinginkan oleh masyarakat.

 

“Secara esensial, komunikasi publik di era digital bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang kuat, memahami audiens, dan menjadi pemimpin yang terhubung dengan dunia yang terus berubah,” ucap Dr Aqua Dwipayana.

 

*Visi dan Misi AAL*

Visi:

Terwujudnya Akademi Angkatan Laut yang mampu menghasilkan Perwira TNI Angkatan Laut yang Tanggap, Tanggon, dan Trengginas

 

- Tanggap : sebagai prajurit pejuang Sapta Marga dan memiliki profesi matra laut yang terampil dan mahir pada tugasnya serta mampu menjawab berbagai perubahan lingkungan yang terjadi di masa depan.

 

- Tanggon : Sebagai prajurit pejuang Sapta Marga yang memiliki profesi matra laut dengan mental dan moril tinggi senantiasa siap dalam penugasan di TNI AL yang memiliki mental, moral, dan etika serta selalu siap melaksanakan tugas tanpa mendahulukan kepentingan individu dan kelompok.

 

- Trengginas : Sebagai prajurit pejuang Sapta Marga yang memiliki profesi matra laut dengan kondisi fisik kesamaptaan prajurit matra laut yang senantiasa ditujukan pada terpenuhinya tuntutan penugasan di TNI AL.

 

Misi :

Menyelenggarakan proses Pendidikan melalui pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan untuk menghasilkan perwira TNI Angkatan Laut yang memiliki jiwa juang, profesionalisme, disiplin, kebanggaan, kerja keras dan kerja cerdas, serta memiliki kesamaptaan jasmani yang tinggi melalui upaya penerapan manajemen dan teknologi pendidikan secara tepat.

 

Menyelenggarakan evaluasi pendidikan yang berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan kea lrah pengembangan yang lebih baik, inovatif, dan bermanfaat.

 

Menumbuhkembangkan pendidikan karakter yang berdasarkan pada nilai-nilai moral dan etika akademi untuk membangun kehidupan ketentaraan yang berbudaya dan beradab dikalangan civitas akademika.

 

*Perkembangan AAL*

AAL atau Akademi Angkatan Laut adalah sekolah pendidikan TNI AL yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Bertujuan untuk mencetak perwira TNI Angkatan Laut. 

 

Taruna AAL dikenal dengan sebutan Kadet. Kadet AAL yang telah lulus kemudian dilantik menjadi perwira pertama dan berpangkat Letnan Dua. Selain itu, Kadet AAL juga berhak menyandang gelar Sarjana Terapan Pertahanan (S.ST.Han). 

 

AAL berada di bawah binaan Akademi TNI dan dipimpin oleh Gubernur Akademi Angkatan Laut, serta secara struktural berada dalam struktur organisasi TNI Angkatan Laut. AAL telah dibentuk sejak 10 Oktober 1951 dan berlokasi di Bumi Moro, Morokrembangan, Krembangan, Surabaya, Jawa Timur.

 

Sejarah AAL bermula ketika Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) membuka Institut Angkatan Laut (IAL) pada tahun 1951 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. D/MP/313/51 tertanggal 28 Juli 1951 yang memuat program pendidikan ALRI yang dilaksanakan secara mandiri. 

 

Meski demikian, pelaksanaan pendidikan di IAL sudah dimulai sejak 10 September 1951 dengan Komandan IAL pertama Mayor Pelaut R. S. Hadiwinarso. Pada Angkatan I, IAL membuka tiga jurusan atau korps, yakni korps Navigasi, korps Teknik Mesin, korps Administrasi. Pendidikan tersebut ditempuh dalam waktu selama tiga tahun dan terbagi menjadi dua tahun pelajaran teori, satu tahun pelajaran praktik.

 

Pada penerimaan Angkatan II satu tahun setelahnya, ditambah dua korps yang terdiri dari korps Komando dan korps Elektronika. Kemudian pada penerimaan Angkatan III, kadet IAL mendapatkan tiga tahun pelajaran teori dan diselingi dengan latihan praktik selama 5.5 bulan, berdasarkan Surat Keterangan yang diterbitkan oleh KSAL No. G.11/10/8 tertanggal 8 Juni 1954.

 

Selanjutnya pada 13 Desember 1956, IAL mengalami perubahan nama menjadi Akademi Angkatan Laut (AAL). Pada tahun 1961, sistem dan lama waktu tempuh pendidikan mengalami perubahan, dari yang sebelumnya selama tiga tahun menjadi empat tahun dengan prosentasi pembelajaran menjadi 73 persen pelajaran praktik serta teori kemiliteran atau keangkatan lautan (profesi), dan 27 % pengetahuan akademik (iptek). Sedangkan sistem lima korps dilebur menjadi tiga korps, yakni korps Pelaut, korps Administrasi, serta korps Komando atau Marinir. Tiga korps inilah yang dikenal dengan istilah “sistem laut”.

 

Pada 5 Oktober 1966, markas komando AKABRI yang merupakan badan pelaksana pusat dalam Departemen Pertahanan dan Keamanan dibentuk di Jakarta. Hal tersebut disusul dengan diangkatnya Mayor Jenderal TNI Achmad Tahir yang merupakan Gubernur AMN di Magelang sebagai Komandan Jenderal AKABRI yang pertama, berdasarkan pada SK WAPERDAM Bidang HANKAM No. KEP/E/61/66. Upacara pembukaan tahun akademi AKABRI Tingkat I diselenggarakan pada 29 Januari 1967 di Magelang. Pada masa ini, AAL berubah menjadi Akabri Bagian Laut.

 

Hingga akhirnya pada 10 November 1984, Akabri Bagian Laut kembali mengalami perubahan nama menjadi Akademi TNI Angkatan Laut yang disingkat sebagai AAL. Hal ini sesuai dengan Keputusan Pangab No. Kep/29/X/1984. Pola kurikulum AAL yang diterapkan adalah 5 bulan + 3 tahun + 7 bulan dengan beban studi yang dihitung dalam satuan SKS.

 

Saat ini, AAL membuka lima program studi yang dapat diikuti oleh para Kadet, yakni:

 

Manajemen Pertahanan Matra Laut D-IV.

 

Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat D-IV.

 

Teknik Mesin Kapal Perang D-IV.

 

Teknik Elektronika Kapal Perang D-IV.

 

Manajemen Logkeu Matra Laut D-IV.

 

AAL Surabaya juga telah terdaftar dalam akreditasi BAN-PT dan mendapat akreditasi dengan SK No. 244/D/O/2010 untuk masing-masing program studi sebagai berikut :

 

Manajemen Pertahanan Matra Laut D-IV (A).

 

Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat D-IV (A).

 

Teknik Mesin Kapal Perang D-IV (A).

 

Teknik Elektronika Kapal Perang D-IV (B).

 

Manajemen Logkeu Matra Laut D-IV (A).

 

Seleksi calon pendaftar dalam Akademi Angkatan Laut dilakukan oleh pihak TNI AL dan selama rangkaian proses penerimaan ini calon pendaftar tidak dipungut biaya apapun. Formulir pendaftaran dapat diakses melalui laman Rekrutmen TNI dan mengisi formulir pendaftaran yang tersedia pada laman tersebut.

 

Gubernur AAL : Laksamana Muda (TNI) Supardi, S.E., M.B.A., CHRMP.

 

Nilai-nilai yang ditekankan Gubernur AAL kepada semua taruna :

 

Tugas pokok Taruna adalah belajar dan berlatih agar menjadi Perwira TNI AL yang hebat dan profesional serta mampu memantapkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menciptakan iklim belajar dan kehidupan Korps Taruna yang kondusif dan mengamalkan kode etik Taruna Laut, Perduptar, dan Persustar. 

 

Taruna senior harus berlatih menjadi pemimpin yang baik dan percaya diri. Aksetabel di lingkungan bawahan arif, bijak, dan dapat diteladani oleh ttaruna junior. Mampu mengendalikan diri atau emosi dan menjadi taruna yang disegani dan dihormati juniornya bukan ditakuti.

 

Taruna junior harus berlatih menjadi bawahan yang baik, memiliki loyalitas, disiplin dan dedikasi tinggi serta hormat dan taat kepada atasan.***

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved