Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Peluang Konsolidasi Jokowi-Megawati Terbuka Jika Pilpres 2 Putaran

pertemuan Jokowi dan Megawati mungkin saja terjadi, jika kepentingan kedua belah pihak semakin kuat dalam percaturan politik 2024

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUNNEWS.COM
ilustrasi - Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kabar mengenai keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terus menjadi sorotan publik, meski kedua pihak, baik Istana Presiden maupun partai banteng telah membantah hal itu.

Seperti diketahui, hubungan Jokowi dan Megawati retak akibat pilpres 2024, terutama terkait dengan majunya sang putra sulung presiden, Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres Prabowo Subianto. Bahkan, Jokowi tak hadir di acara ulang tahun PDI Perjuangan beberapa waktu lalu.

Analis politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago menilai, pertemuan Jokowi dan Megawati mungkin saja terjadi, jika kepentingan kedua belah pihak semakin kuat dalam percaturan politik 2024, meski kedua pihak sudah membantah.

“Relasi Megawati-Jokowi saat ini mungkin saja dingin karena dua tokoh ini punya sikap berbeda di pilpres 2024. Tetapi, komunikasinya tersebut mungkin saja kembali terbuka, apabila pilpres menjadi dua putaran. Siapapun yang masuk ke putaran kedua, peran King Maker bakal menentukan arah koalisi," ujarnya, dalam pesan yang diterima, Selasa (23/1).

Menurut dia, Megawati tentu sedang menimbang dengan siapa berkoalisi jika pilpres menjadi dua putaran. "Jika yang masuk putaran kedua tersebut Prabowo-Gibran vs Ganjar-Mahfud. Relasi Megawati-Surya Paloh mungkin kembali terbuka, karena mau tidak mau, Ganjar-Mahfud butuh dukungan pendukung Anies-Imin," jelasnya.

Jika yang masuk putaran dua Prabowo-Gibran vs Anies-Imin, Arifki berujar, Megawati dan PDI Perjuangan tentu memiliki berbagai pertimbangan. "Pertama, kembali melakukan rekonsiliasi dengan Jokowi, karena sama-sama mendukung paslon yang dinilai lebih nasionalis, atau PDIP membuka komunikasi dengan Anies-Imin, meskipun di akar rumput atau elite sulit mempertemukan koalisi Ganjar-Mahfud dengan Anies-Imin," jelasnya.

“Kubu Paslon 01 dan 03 ibarat air dengan minyak, kemungkinan bersatunya kecil. Tetapi, ada ruang lain yang berpotensi menyatukan mereka, yakni punya sikap kritis yang sama dengan pemerintahan Jokowi. Kita saat ini hanya bisa melihat peluang kemungkinan dari ketidakmungkinan itu terjadi,” sambungnya.

Adapun, pengamat politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menilai, pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Megawati sulit terjadi.

Alasannya, karena luka yang ditimbulkan dari manuver politik Jokowi atas tendensinya memihak satu pasangan capres-cawapres yang berseberangan dengan PDI Perjuangan, serta manuver lainnya masih tergolong baru.

Apalagi jika berbicara pada lingkup elite partai dan lingkaran Istana Presiden, menurut dia, konflik tersebut masih terus terjadi, dan kian berkembang belakangan ini.

"Tapi, kalau merujuk pada dinamika konflik yang terjadi pada komunikasi pada elite partai, termasuk di lingkaran istana, memang tampaknya cukup kecil terjadi pertemuan Pak Jokowi dengan Bu Mega itu," katanya, dikutip dari siaran langsung Kompas TV, Selasa (23/1).

PDI Perjuangan juga dinilai belum sembuh total atas manuver Jokowi dalam agenda pemilu 2024. Umam mengibaratkan momen ini sebagai banteng yang sudah terluka, dia siap untuk menyeruduk balik.

"Luka yang ditimbulkan oleh manuver dari Pak Jokowi belum sembuh total, dan luka itu tergolong baru. Maka, ibaratnya kalau banteng sudah terluka itu siap menyeruduk balik pihak yang selama ini dianggap menyalahi atau menghantam ego dari banteng itu sendiri," tuturnya. (Tribunnews/Danang Triatmojo/Reza Deni)

 

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved