Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Mengenal Tradisi Megengan, Bentuk Hormat Masyarakat Kudus Kepada Sunan Muria

Masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus melakukan tradisi megengan di kompleks masjid dan makam Sunan Muria. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: raka f pujangga

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus melakukan tradisi megengan di kompleks masjid dan makam Sunan Muria

Tradisi itu biasa dilakukan oleh masyarakat sekitar menjelang bulan puasa.

Sebelum melaksanakan tradisi ini, warga sekitar berziarah terlebih dahulu di masjid dan makam Sunan Muria. 

Baca juga: Megengan 2024: Sambut Ramadhan bersama Kokola Biskuit Halal Keluarga Indonesia

Usai berziarah, para masyarakat makan bersama di ruangan selamatan atau hajatan yang terletak di kompleks makam Sunan Muria.

Para masyarakat berbondong-bondong membawa nasi bancaan yang telah disiapkan, dengan isian beragam sayur dan ayam ingkung atau panggang yang kemudian dimakan bersama-sama.

Sebelum makan, bancaan atau makanan yang dibawa oleh masyarakat di doakan terlebih dahulu oleh para petugas Masjid dan Makam Sunan Muria.

Warga Desa Colo menyantap makanan megengan
Warga Desa Colo menyantap makanan megengan sebelum melaksanakan ibadah puasa.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur, mengatakan tradisi ini sudah bertahan lama sejak dahulu. 

Hal ini terus dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada Raden Umar Said atau Sunan Muria.

Lantaran tidak sedikit dari masyarakat sekitar yang mendapatkan rezeki dari adanya Makam Raden Umar Said atau Sunan Muria

Lantaran kunjungan dari masyarakat di Indonesia bahkan luar negeri yang berziarah ke Makam Sunan Muria.

"Ini sebagai bentuk pengakuan masyarakat kepada Sunan Muria. Karena keberadaannya menjadikan sebab masyarakat bisa mendapatkan kesejahteraan, mereka bisa berdagang barang ataupun jasa di sini (kawasan Makam Sunan Muria) dan ini bentuk penghormatan masyarakat, biasa dilakukan sebelum berpuasa," ujar Mastur, Senin (11/3/2024).

Dia mengatakan adapun menu-menu yang dibawa diantaranya ingkung ayam atau ayam yang dipanggang tanpa bumbu. 

Kemudian sayuran yang digunakan sebagai bahan urap tidak meninggalkan tiga jenis sayuran, meliputi daun kelor, daun dadap, dan daun mengkudu. 

Baca juga: Bupati Pekalongan Fadia : Tradisi Megengan Momentum Menjaga Nilai-nilai Budaya

Terkadang dilengkapi dengan lauk tempe, tahu, hingga ikan teri. 

Sementara itu, Zuliana warga sekitar mengatakan dia bersama keluarganya masih melestarikan tradisi ini. Hal ini sebagai wujud syukur kepada Allah, dan hormat kepada Sunan Muria.

"Saya ke sini sama suami dan anak, setiap sebelum Ramadan melakukan selamatan di sini. Apalagi bapaknya (suami) kerja di sini ya syukur aja bisa mencari rezeki di sini dan bekerja di sini," ucapnya. (Rad)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved